Peran Strategis Ulama Berempati di Era Media Sosial Menjelang HUT ke-81 RI
- account_circle muidepok
- calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
- visibility 36
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Andre Anjarkasih S. (Ketua Komisi Infokomdigi MUI Kota Depok)
Depok, 11 Agustus 2026.
Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 menjadi momentum krusial untuk merefleksikan kembali perjalanan bangsa di tengah arus zaman yang semakin kompleks. Akselerasi teknologi informasi, transformasi digital, dan derasnya arus globalisasi telah mengubah lanskap sosial masyarakat secara mendasar, baik di wilayah penyangga seperti Kota Depok maupun di seluruh pelosok Nusantara.
Di tengah dinamisnya perubahan tersebut, tantangan besar yang muncul adalah menjaga fondasi moral dan keutuhan bangsa. Secara historis, ulama selalu memegang peran sentral sebagai pilar perjuangan dan perekat kebangsaan. Di era modern ini, amanah tersebut bertransformasi, ulama tidak hanya bertugas di mimbar dakwah konvensional, tetapi juga berdiri sebagai pelopor peradaban, benteng moral, dan uswatun hasanah (suri teladan).
Untuk menjawab tantangan zaman dan menjaga kemaslahatan umat, terdapat empat peran strategis ulama yang menjadi pilar utama dalam merawat keutuhan bangsa:
1. Benteng Moderasi Beragama di Tengah Kelimpahan Informasi
Laju arus informasi di media sosial kerap memicu disinformasi, narasi ekstrem, dan polarisasi sosial. Di tengah heterogenitas masyarakat urban seperti Kota Depok dan Indonesia secara umum, ulama hadir mengusung semangat Islam wasathiyah (moderasi beragama).
Ulama berfungsi sebagai penyejuk yang menyuarakan Islam ramah, santun, dan inklusif. Melalui pemahaman keagamaan yang mendalam dan kontekstual, ulama memperkokoh tiga pilar persaudaraan: ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).
2. Mengarungi Ruang Siber Melalui Dakwah Digital Adaptif
Transformasi digital menuntut lembaga keagamaan, seperti Komisi Informasi dan Komunikasi Digital (Infokomdigi) MUI, untuk bergerak aktif. Dakwah modern harus melampaui batas fisik majelis taklim dan hadir secara adaptif di ruang siber tempat generasi muda beraktivitas.
Melalui sinergi Infokomdigi MUI Kota Depok dan jajaran ulama, ruang digital dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan kebaikan yang edukatif dan relevan. Langkah ini menjadi sarana efektif dalam mengedukasi etika berinternet sekaligus membendung dampak negatif teknologi terhadap moralitas generasi penerus.
3. Keteladanan Moral dan Integritas Pemimpin Keagamaan
Kemaslahatan bangsa hanya dapat terwujud apabila kepemimpinan keagamaan ditopang oleh integritas yang teguh. Sebagai waratsatul anbiya (pewaris para nabi), ulama menjadi cermin kejujuran, kesederhanaan, dan keadilan.
Di tengah tantangan sosial-ekonomi dan risiko kemerosotan moral, keteladanan ulama menjadi kompas arah bagi masyarakat. Kehadiran figur keagamaan yang konsisten menyuarakan kebenaran dan membela hak-hak umat memberikan rasa aman serta menumbuhkan kepercayaan publik.
4. Pelopor Kemandirian Ekonomi Umat dan Pendidikan Masa Depan
Ulama juga mengambil peran nyata dalam penguatan ekonomi dan pendidikan. Optimalisasi potensi Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF), pengembangan ekonomi syariah berbasis pesantren, serta peningkatan literasi keuangan modern terus digelorakan, sebagaimana diinisiasi melalui Pusat Pengincubasian Bisnis Usaha Kecil (PINBAS) MUI Depok.
Di bidang pendidikan, ulama tidak hanya membekali santri dengan pemahaman agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga mendorong penguasaan sains, teknologi, dan kewirausahaan agar generasi muda siap bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitas keimanannya.
Mengawal Indonesia menuju kemajuan berkelanjutan membutuhkan sinergi yang kokoh antara ulama, umara (pemerintah), dan seluruh elemen masyarakat.
Refleksi Kemerdekaan RI ke-81 ini mengingatkan kembali bahwa keberkahan suatu daerah dan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas iman, ketakwaan, serta keteladanan para pemimpinnya.
Dengan memperkuat peran ulama sebagai penerang, pemersatu dalam perbedaan, dan pembawa kemaslahatan, harapan untuk mewujudkan Kota Depok yang religius serta Indonesia yang berdaulat, maju, adil, dan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dapat terwujud.
- Penulis: muidepok

Saat ini belum ada komentar