MUI Kota Depok Dorong Ulama dan Da’i Kuasai Media Digital untuk Dakwah Kontemporer
- account_circle Aas
- calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
- visibility 116
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DEPOK — Perkembangan teknologi digital yang pesat menuntut para ulama, kiai, ustadz, dan ustadzah untuk beradaptasi dalam menyiarkan ajaran Islam. Dakwah kontemporer melalui media sosial kini menjadi sebuah keharusan agar ruang digital dapat diwarnai dengan konten-konten yang positif dan edukatif.
Ketua Komisi Infokomdigi MUI Kota Depok, H. Andre Anjarkasih S., menyampaikan bahwa keberadaan dakwah digital berfungsi untuk mengimbangi pesatnya lalu lintas informasi di media sosial, tanpa mengecilkan arti penting metode tradisional.
“Dakwah kontemporer merupakan dakwah yang fleksibel di era saat ini. Bukan berarti dakwah talaqqi (tatap muka langsung) dengan guru itu tidak benar—tentu itu sangat dianjurkan. Namun di zaman digital saat ini, mau tidak mau ulama atau da’i harus masuk ke dalamnya untuk mewarnai media sosial,” ujar H. Andre.
Kemandirian Perangkat Digital dan Potensi Monetisasi
H. Andre juga mendorong para penceramah untuk mulai menguasai penggunaan perangkat digital secara mandiri, seperti smartphone. Dengan kemampuan tersebut, penyampaian pesan-pesan agama tidak lagi bergantung penuh pada pihak lain.
Pemanfaatan fitur-fitur canggih pada ponsel pintar memungkinkan pembuatan pesan dakwah singkat yang interaktif di berbagai platform populer, seperti:
* YouTube Shorts
* TikTok
* Platform media sosial lainnya
Selain memperluas jangkauan syiar hingga ke tingkat global, pengelolaan media digital yang konsisten juga membuka peluang keberkahan lain. Jika dilakukan dengan niat yang ikhlas dan platform telah memenuhi syarat monetisasi, dakwah digital dapat memberikan nilai tambah secara ekonomi melalui sistem yang berlaku di platform tersebut.
Menjaga Keseimbangan: Digital dan Majelis Taklim
Meski dakwah digital dinilai sangat efektif dari segi jangkauan, H. Andre mengingatkan masyarakat dan para penceramah untuk tidak meninggalkan tradisi bertatap muka (talaqqi). Kehadiran langsung di majelis taklim dan pengajian tetap menjadi pilar utama dalam menuntut ilmu agama.
Melalui penguatan dakwah kontemporer ini, MUI Kota Depok berharap lanskap media sosial tidak lagi didominasi oleh konten-konten negatif, melainkan makin semarak dengan narasi-narasi kebaikan yang menyejukkan.
- Penulis: Aas
- Editor: Aas

Saat ini belum ada komentar