Zuhud Modern: Memegang Dunia di Tangan, Bukan Menyimpannya di Hati
- account_circle Rohmat Rospari
- calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Rohmat Rospari
Pendahuluan
Di era kompetisi global dan kemajuan teknologi digital, standar kesuksesan kerap kali diukur secara kuantitatif: besarnya nominal pendapatan, kepemilikan aset mewah, hingga popularitas di media sosial. Tidak sedikit individu yang mencurahkan seluruh energi dan waktunya demi mengejar kemewahan finansial, namun pada akhirnya kehilangan ketenangan batin (inner peace).
Padahal, jauh sebelum era modern ini berkembang, Al-Qur’an telah meletakkan fondasi filosofis mengenai hakikat kehidupan materi:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan (la’ib), senda gurau (lahw), perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam harta dan anak…” (QS. Al-Hadid: 20)
Pesan ilahi ini bukan merupakan bentuk penolakan terhadap dunia, melainkan sebuah peringatan agar manusia memiliki kesadaran eksistensial. Dunia hanyalah persinggahan sementara yang penuh ujian, sedangkan akhirat adalah tujuan akhir yang abadi.
Untuk menjaga keseimbangan tersebut, para ulama menekankan pentingnya menginternalisasi salah satu konsep spiritual utama dalam Islam: Zuhud.
Meredefinisi Mitos dan Hakikat Zuhud
Hingga saat ini, konsep zuhud masih sering disalahpahami secara reduktif. Ada anggapan bahwa menjadi sosok yang zuhud berarti harus memilih hidup miskin, mengenakan pakaian lusuh, meninggalkan aktivitas ekonomi, atau mengisolasi diri dari interaksi sosial demi fokus beribadah di masjid.
Pemahaman skeptis dan ekstrim ini diluruskan oleh para cendekiawan Muslim lintas zaman:
* Imam Ahmad bin Hanbal menegaskan bahwa zuhud bukanlah mengharamkan hal-hal yang halal atau membiarkan harta tersia-sia.
* Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa hakikat zuhud adalah meninggikan prioritas akhirat atas dunia, serta menggantungkan harapan pada apa yang ada di sisi Allah melebihi apa yang ada di genggaman manusia.
* Imam an-Nawawi menambahkan bahwa zuhud bukanlah memutus hubungan dengan dunia secara total, melainkan tidak menjadikan dunia sebagai orientasi utama kehidupan.
Dengan kata lain, zuhud adalah kondisi orientasi hati (state of mind & heart), bukan semata tampilan fisik atau status sosial-ekonomi.
Panduan Mengamalkan Zuhud di Era Modern
Bagaimana mengintegrasikan nilai zuhud di tengah kepungan arus materialisme saat ini? Para ulama membaginya ke dalam tiga pilar praktis:
1. Manajemen Ekspektasi (Kashr al-Amal)
Mengendalikan angan-angan panjang (tulul amal) terhadap dunia. Seorang Muslim tetap dituntut memiliki perencanaan strategis dan cita-cita besar, namun seluruh rencana tersebut wajib dibingkai dengan kesadaran akan keterbatasan usia dan kepasrahan pada takdir Allah SWT.
2. Sikap Ridha dan Konsistensi Ikhtiar
Menerima setiap hasil akhir dengan lapang dada setelah mengoptimalkan usaha (ikhtiar). Rasa ridha membentuk ketahanan mental (mental resilience), mencegah sifat iri hati, dan membebaskan seseorang dari jebakan menjadikan standar hidup orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaan pribadi.
3. Etos Kerja Profesional dan Kemandirian Finansial
Inilah dimensi zuhud yang kerap terabaikan. Islam tidak pernah melarang umatnya menjadi kaya. Rekam jejak sejarah menunjukkan keteladanan Abdullah bin al-Mubarak—seorang ulama besar, ahli hadis, sekaligus pengusaha yang sangat sukses.
Beliau memilih tetap aktif berdagang dengan tiga tujuan strategis:
1. Menjaga Kehormatan Diri (Iffah): Mencegah ketergantungan finansial pada pihak lain, sesuai prinsip bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
2. Kemandirian Dakwah: Kekuatan ekonomi memberikan keleluasaan dalam menyuarakan kebenaran tanpa intervensi kepentingan materi.
3. Filantropi Islam: Mengoptimalkan ibadah yang membutuhkan dukungan finansial, seperti haji, zakat, infak, sedekah, pembiayaan pendidikan, hingga pembangunan sarana publik dan bantuan kemanusiaan.
Implikasi Kekayaan dalam Konsep Zuhud
Bekerja keras dan mengejar ketahanan ekonomi bukanlah lawan dari zuhud. Sebaliknya, bekerja dengan niat ibadah, memperoleh rezeki halal, dan mendistribusikannya untuk kemaslahatan publik merupakan manifestasi tertinggi dari zuhud modern.
Seseorang yang memiliki mentalitas zuhud tetap dapat memiliki aset yang berkembang, usaha yang sukses, serta kehidupan yang mapan. Perbedaannya terletak pada kendali diri: harta berada di tangannya untuk dikelola, bukan menguasai hatinya hingga melahirkan kesombongan atau ketakutan akan kehilangan.
Kekayaan hakiki (al-ghina) bukanlah dihitung dari seberapa banyak aset yang ditumpuk, melainkan dari rasa cukup (qana’ah) yang bersemayam dalam jiwa.
Kesimpulan: Keseimbangan Antara Dunia dan Akhirat
Zuhud bukanlah seruan untuk mundur dari peradaban atau memilih kemiskinan. Zuhud adalah dorongan untuk hidup bersahaja, beretos kerja tinggi, dan menjadikan seluruh potensi duniawi sebagai sarana menuju kebahagiaan akhirat.
Orientasi integratif ini terangkum indah dalam doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)
Ayat ini mempertegas bahwa Islam tidak memisahkan antara pencapaian dunia dan orientasi akhirat. Dunia adalah ladang menanam (mazra’atuh), dan akhirat adalah tempat memetik hasilnya. Itulah hakikat zuhud modern: dunia tidak ditinggalkan, melainkan ditempatkan secara proporsional.
- Penulis: Rohmat Rospari
- Editor: Aas

Saat ini belum ada komentar