Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Menimbang Gelar, Menakar Keikhlasan. Antara Substansi Ilmu dan Jebakan Simbolik

Menimbang Gelar, Menakar Keikhlasan. Antara Substansi Ilmu dan Jebakan Simbolik

  • account_circle Andre AS.
  • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
  • visibility 68
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Andre Anjarkasih S.(Ketua Komisi Infokomdigi MUI Depok)

Dalam dinamika dunia literasi dan akademik, pencantuman gelar atau titel di belakang nama seorang penulis sering kali dianggap sebagai standar baku. Gelar dipandang sebagai representasi kompetensi, legitimasi ilmiah, serta bentuk penghargaan atas jerih payah menempuh pendidikan tinggi. Namun, di tengah budaya pencitraan yang kian menggejala, kita kerap menjumpai paradoks yang menarik. Sebagian cendekiawan dan ulama justru memilih untuk menyembunyikan atau tidak pernah mencantumkan deretan titel akademis mereka pada buku-buku maupun karya tulis yang diterbitkan.

Ketika hal ini ditanyakan kepada seorang ulama yang memiliki kapasitas keilmuan luas namun memilih anonimitas akademik, jawabannya sering kali sederhana namun mendalam: “Saya menyukainya seperti itu.” Sikap ini memancing sebuah pertanyaan, mana yang benar di antara dua kutub ini, mereka yang menanggalkan atribut, atau mereka yang bangga memamerkan gelar, bahkan tak jarang diwarnai fenomena penggunaan gelar fiktif?

Pilihan untuk tidak menonjolkan gelar akademik berakar kuat pada tradisi moral keilmuan Islam, di mana prinsip tawadhu (kerendahan hati) dan keikhlasan niat menjadi fondasi utama. Para ulama terdahulu senantiasa berhati-hati terhadap penyakit hati yang halus, seperti ujub (membanggakan diri sendiri) dan riya (beramal demi mendapatkan pengujian atau pujian manusia).

Bagi mereka yang mengambil jalan sunyi ini, karya tulis dan ilmu yang disebarkan harus berdiri di atas kakinya sendiri. Mereka tidak ingin pembaca menilai sebuah gagasan berdasarkan seberapa megah titel sang penulis, melainkan murni berdasarkan bobot kebenaran dan kemanfaatan substansi yang disampaikan. Sikap ini sejalan dengan filosofi padi, semakin berisi, ia akan semakin merunduk. Pengakuan sejati seorang cendekiawan bukanlah pada sebaris huruf di belakang namanya, melainkan pada ketulusan kontribusinya bagi umat dan masyarakat.

Di sisi lain, era modern menuntut adanya transparansi kredibilitas. Dalam konteks profesional, birokrasi, atau dunia akademik formal, mencantumkan gelar yang diperoleh secara sah (de jure dan de facto) adalah hal yang wajar dan dibenarkan. Gelar berfungsi sebagai penanda objektif agar masyarakat tahu dari disiplin ilmu mana seseorang memandang dan menganalisis sebuah persoalan.

Pencantuman gelar menjadi tidak menyalahi etika selama diniatkan secara proporsional, sebagai identitas kompetensi profesional, bukan sebagai alat untuk mendominasi ruang sosial atau mendongkrak ego pribadi. Batas pembedanya terletak pada hati nurani, apakah gelar tersebut dipakai untuk memudahkan publik mengenali keahlian, atau justru disematkan untuk memupuk kesombongan?

Persoalan menjadi sangat krusial ketika kita bergeser pada fenomena penyalahgunaan gelar, atau yang sering diistilahkan secara populer sebagai “titel titelan” atau gelar palsu. Menggunakan gelar akademik yang tidak pernah ditempuh, dibeli dari lembaga non-akreditasi atau mencatut titel kehormatan secara sembarangan, adalah bentuk pengkhianatan terhadap etika moral dan hukum positif.

Dalam pandangan Islam, tindakan ini dikategorikan sebagai bentuk kebohongan dan penipuan publik. Seseorang yang membangun kredibilitas palsu demi meraih kehormatan, jabatan, atau pengaruh sosial sedang mempraktikkan manipulasi struktural. Ironisnya, di era digital saat ini, validitas institusional kerap kalah mentereng dibandingkan kemampuan seseorang melakukan pencitraan diri secara artifisial.

Pada akhirnya, tidak ada hukum mutlak yang mewajibkan seseorang untuk memamerkan atau menyembunyikan gelarnya. Apa yang dilakukan oleh ustaz tersebut adalah sebuah pilihan mazhab akhlak, sebuah ikhtiar batin untuk menjaga kemurnian niat agar ilmu tetap menjadi pelita, bukan sekadar komoditas prestise.Sebaliknya, masyarakat pun tidak bisa serta-merta menghakimi mereka yang mencantumkan gelar secara sah, selama hal itu diiringi dengan integritas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ukuran kemuliaan seseorang di hadapan ilmu pengetahuan bukanlah seberapa panjang gelar yang disematkan, melainkan seberapa besar kejujuran intelektual, keluhuran akhlak, dan kemanfaatan nyata yang ia hadirkan bagi peradaban.

  • Penulis: Andre AS.
  • Editor: Aas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MUI Kota Depok Resmikan In-House Training Sukmajaya: Dorong Dakwah Digital Hadapi Tantangan AI dan Dinamika Zaman

    MUI Kota Depok Resmikan In-House Training Sukmajaya: Dorong Dakwah Digital Hadapi Tantangan AI dan Dinamika Zaman

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle Aas
    • visibility 88
    • 0Komentar

    DEPOK — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok secara resmi membuka kegiatan In-House Training yang diselenggarakan oleh MUI Kecamatan Sukmajaya pada Selasa (16/6/2026). Mengusung tema “Dakwah Digital sebagai Ikhtiar Menjawab Tantangan Zaman,” pelatihan ini digelar untuk memperkuat kapasitas para pengurus dan dai lokal dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk dakwah Islam yang adaptif dan inklusif. Acara […]

  • IKHTIAR MUI DEPOK DI HARI KEMERDEKAAN: Dari Kemerdekaan Bangsa Menuju Kemandirian Ekonomi Umat

    IKHTIAR MUI DEPOK DI HARI KEMERDEKAAN: Dari Kemerdekaan Bangsa Menuju Kemandirian Ekonomi Umat

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
    • account_circle H. Acep Azhari
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Penulis: H. Acep Azhari (Dirut PINBAS) Hari Kemerdekaan adalah momentum untuk kembali bertanya: sudah sejauh mana umat menikmati kemerdekaan dalam kehidupan ekonominya? Kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga kemampuan untuk berdiri di atas kekuatan sendiri. Karena itu, bagi MUI Kota Depok, semangat kemerdekaan perlu diterjemahkan ke dalam ikhtiar membangun kemandirian ekonomi umat. Dari […]

  • Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Cina Gelar Shalat Istisqa, Mohon Turunnya Hujan dan Tobat Ekologis

    Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Cina Gelar Shalat Istisqa, Mohon Turunnya Hujan dan Tobat Ekologis

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
    • account_circle Andre AS
    • visibility 122
    • 0Komentar

    DEPOK — Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pondok Cina sukses menggelar ibadah Shalat Istisqa (shalat meminta hujan) pada Senin, 14 September 2026. Pelaksanaan ibadah yang bertempat di Halaman Masjid Al Khohirur, Jalan Al Furqan, Pondok Cina, Beji, Kota Depok, ini berlangsung khidmat mulai pukul 06.30 hingga 08.00 WIB. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk tindak lanjut atas […]

  • MUI Kota Depok Kembali Bimbing Ikrar Syahadat Mualaf Baru dengan Niat Tulus Tanpa Paksaan

    MUI Kota Depok Kembali Bimbing Ikrar Syahadat Mualaf Baru dengan Niat Tulus Tanpa Paksaan

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle Andre AS.
    • visibility 50
    • 0Komentar

    DEPOK – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok kembali melaksanakan bimbingan dan pengucapan dua kalimat syahadat bagi seorang mualaf yang memeluk agama Islam atas niat tulus dan tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun. Kegiatan khidmat ini berlangsung di Kantor MUI Kota Depok yang beralamat di Jalan Raya Nusantara No. 5-7, Kota Depok, pada hari […]

  • “Di Era Digital, Ulama dan Dai Mewujudkan Dakwah yang Mencerahkan”

    “Di Era Digital, Ulama dan Dai Mewujudkan Dakwah yang Mencerahkan”

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle Andre AS.
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Oleh: Andre Anjarkasih S.(Ketua Komisi Infokomdigi MUI Kota Depok) Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW senantiasa menjadi momen spiritual yang sakral sekaligus strategis bagi umat Islam. Setiap tahun, jutaan Muslim memperingati kelahiran Rasulullah SAW sebagai wujud penghormatan dan kerinduan mendalam kepada sosok pembawa risalah kebenaran. Namun, di tengah akselerasi teknologi informasi yang masif, penyampaian pesan keteladanan […]

  • Membangun Ekosistem Kerukunan di Depok, FKUB Tekankan Pentingnya Dialog dan Kolaborasi Lintas Iman

    Membangun Ekosistem Kerukunan di Depok, FKUB Tekankan Pentingnya Dialog dan Kolaborasi Lintas Iman

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • account_circle Andre AS.
    • visibility 65
    • 0Komentar

    DEPOK — Kerukunan antarumat beragama dinilai tidak tumbuh secara otomatis, melainkan memerlukan wadah serta proses kolektif yang dijaga secara konsisten oleh seluruh elemen masyarakat. Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Depok, KH. Abdul Ghoni, dalam dialog interaktif yang berlangsung pada Jum’at (11/9/2026). KH. Abdul Ghoni menyatakan bahwa di tengah kondisi […]

expand_less