Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » 81 Tahun Indonesia Merdeka: Dari Perjuangan Ulama Menuju Masyarakat yang Diridai Allah SWT

81 Tahun Indonesia Merdeka: Dari Perjuangan Ulama Menuju Masyarakat yang Diridai Allah SWT

  • account_circle Ali Wartadinata
  • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
  • visibility 28
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah yang datang begitu saja. Ia merupakan buah dari perjuangan panjang yang dipenuhi pengorbanan jiwa, harta, dan tenaga seluruh elemen bangsa. Di antara para pejuang itu, ulama menempati posisi yang sangat penting. Mereka bukan hanya menjadi pemimpin spiritual, tetapi juga menjadi penggerak perlawanan, pendidik umat, penanam semangat kebangsaan, sekaligus penjaga moral masyarakat. Peran tersebut tidak berhenti ketika Indonesia merdeka. Hingga hari ini, ulama terus mengemban amanah untuk mengisi kemerdekaan melalui dakwah, pendidikan, pembinaan umat, serta menjaga persatuan bangsa. Dalam konteks itulah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) hadir sebagai wadah pengabdian ulama dalam membimbing kehidupan umat dan bangsa menuju masyarakat yang diridai Allah SWT.

Dalam sejarah perjuangan bangsa, ulama memandang kemerdekaan sebagai bagian dari ajaran Islam. Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia tidak boleh hidup dalam penindasan, sementara Rasulullah SAW mencontohkan pentingnya membangun masyarakat yang merdeka, adil, dan bermartabat. Karena itu, ketika bangsa Indonesia dijajah, para ulama tidak tinggal diam. Mereka memimpin perlawanan di berbagai daerah, menjadikan masjid dan pesantren sebagai pusat pendidikan, konsolidasi perjuangan, serta pembentukan karakter pejuang yang berani berkorban demi agama dan tanah air.

Jejak sejarah mencatat banyak ulama yang berada di garis depan perjuangan. Perlawanan Diponegoro tidak dapat dipisahkan dari semangat jihad para ulama. Demikian pula perjuangan rakyat Aceh, Banten, Jawa Barat, Sumatera Barat, hingga Kalimantan yang dipimpin atau didukung oleh para kiai, syekh, dan tokoh pesantren. Mereka membangkitkan semangat umat bahwa mempertahankan kehormatan bangsa adalah bagian dari menjaga amanah Allah SWT.

Puncak kontribusi ulama dalam perjuangan kemerdekaan tampak setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Saat ancaman penjajah kembali datang, para ulama menyadari bahwa kemerdekaan yang baru diproklamasikan harus dipertahankan. Dalam situasi tersebut lahirlah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang dipelopori oleh para ulama Nahdlatul Ulama di bawah kepemimpinan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Fatwa tersebut menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia merupakan kewajiban bagi umat Islam. Resolusi Jihad menjadi sumber inspirasi dan motivasi yang membakar semangat rakyat dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan. Demikian pula dengan Muhammadiyah, para Pimpinan Dan kadernya seperti KH. Mas Mansyur, Ki Bagus Hadikusumo Dan Kahar Mudzakir, adalah para pejuang Dan pahlawan Nasional yang terus menggelorakan semangat juang, demikian pula halnya Panglima Besar Jendral Soedirman seorang Guru Muhammadiyah Dan Panglima TNI Pertama yang terus menghidup suburkan perlawanan terhadap penjajahan belanda dengan perang grilianya, membuat tentara belanda sangat kerepotan melawannya, Hal ini menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh selaras dengan nilai-nilai Islam. Cinta tanah air bukanlah sikap yang bertentangan dengan agama, melainkan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga amanah Allah berupa negeri yang damai, adil, dan makmur. Para ulama berhasil membuktikan bahwa semangat keagamaan mampu menjadi kekuatan besar dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun, mempertahankan kemerdekaan bukan hanya persoalan mengangkat senjata. Setelah ancaman fisik berakhir, bangsa Indonesia menghadapi tantangan baru berupa kemiskinan, kebodohan, ketimpangan sosial, krisis moral, penyalahgunaan teknologi, radikalisme, intoleransi, penyebaran hoaks, hingga melemahnya nilai-nilai kebangsaan. Tantangan-tantangan tersebut menuntut perjuangan yang tidak kalah berat dibandingkan perjuangan di medan perang.

Di sinilah peran ulama kembali menjadi sangat penting. Ulama bertugas menjadi pewaris para nabi (waratsatul anbiya) yang membimbing umat agar tetap berada di jalan Allah SWT. Melalui dakwah yang menyejukkan, pendidikan yang mencerahkan, fatwa yang memberikan kepastian hukum syariat, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari, ulama menjadi penjaga moral bangsa. Mereka mengingatkan bahwa kemerdekaan harus diisi dengan kerja keras, kejujuran, keadilan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam konteks inilah Majelis Ulama Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis. Sejak berdiri pada tahun 1975, MUI menjadi rumah besar bagi para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim untuk memberikan pengabdian terbaik kepada umat dan bangsa. MUI menjalankan fungsi sebagai pembimbing, pelayan umat, pemberi fatwa, pelopor gerakan amar makruf nahi mungkar, serta mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis dan religius.

Di era modern, peran MUI semakin luas. Selain memberikan fatwa terhadap berbagai persoalan keagamaan, MUI aktif mengembangkan ekonomi syariah, memperkuat sertifikasi halal, membangun moderasi beragama, meningkatkan literasi digital, memperkuat ketahanan keluarga, membina generasi muda, hingga menjaga ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Semua ikhtiar tersebut merupakan bentuk nyata pengisian kemerdekaan yang relevan dengan tantangan zaman.

Di tingkat daerah, keberadaan MUI memiliki arti yang sangat penting karena berhadapan langsung dengan dinamika kehidupan masyarakat. MUI Kota Depok, misalnya, memiliki peluang besar untuk menjadi simpul sinergi antara ulama, umara, akademisi, organisasi kemasyarakatan, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan seluruh elemen masyarakat dalam membangun kota yang religius, maju, dan harmonis. Melalui pembinaan umat, penguatan dakwah berbasis ilmu, pemberdayaan masjid, peningkatan literasi keislaman, penguatan ekonomi umat, pembinaan keluarga sakinah, serta pembinaan generasi muda, MUI Kota Depok dapat terus menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai solusi atas berbagai persoalan sosial yang berkembang.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, masyarakat membutuhkan kehadiran ulama yang mampu memberikan bimbingan secara bijaksana, moderat, dan menyejukkan. Dakwah tidak lagi cukup dilakukan di mimbar-mimbar masjid, tetapi juga harus hadir di ruang digital, media sosial, dunia pendidikan, serta berbagai ruang publik lainnya. MUI memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dapat diterjemahkan menjadi solusi yang membangun optimisme, memperkuat persatuan, dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Kemerdekaan pada hakikatnya bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari kebodohan, kemiskinan, kemaksiatan, korupsi, perpecahan, dan segala bentuk kerusakan moral. Oleh karena itu, perjuangan ulama tidak pernah selesai. Jika dahulu para ulama berjuang dengan bambu runcing dan fatwa jihad melawan penjajah, maka hari ini perjuangan itu diwujudkan melalui ilmu pengetahuan, dakwah, pendidikan, keteladanan, penguatan akhlak, serta pemberdayaan masyarakat.

Akhirnya, bangsa Indonesia patut bersyukur karena memiliki sejarah yang menunjukkan eratnya hubungan antara ulama dan perjuangan kebangsaan. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini mengandung amanah besar untuk terus dijaga dan diisi dengan amal saleh yang membawa kemaslahatan. Majelis Ulama Indonesia, termasuk MUI Kota Depok, memiliki peran yang sangat strategis dalam melanjutkan estafet perjuangan tersebut. Dengan terus memperkuat ukhuwah, membimbing umat, menegakkan nilai-nilai Islam yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin, serta bersinergi dengan seluruh komponen bangsa, insya Allah cita-cita mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—masyarakat yang maju, damai, adil, sejahtera, dan diridai Allah SWT—akan semakin mendekati kenyataan.

Semoga semangat perjuangan para ulama terdahulu senantiasa menginspirasi generasi masa kini untuk terus mengisi kemerdekaan dengan karya terbaik, menjaga persatuan bangsa, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

  • Penulis: Ali Wartadinata
  • Editor: Aas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MUI Kota Depok Ikuti Workshop Literasi Keislaman Digital Di Era AI

    MUI Kota Depok Ikuti Workshop Literasi Keislaman Digital Di Era AI

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle Monang
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Jakarta, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok melalui Komisi Informasi dan Komunikasi Digital (Infokomdigi) mengikuti Workshop Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era Artificial Intelligence (AI) di Aula Buya Hamka, MUI Pusat, Jakarta, Rabu (29/7/2026).Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Syiar Zakat, Infak, dan Sedekah untuk Membangun Umat di Era Digital” dan dihadiri pengurus Komisi Infokomdigi MUI kabupaten/kota […]

  • Spirit Keteladanan Rasulullah SAW dalam Membangun Pelayanan Publik

    Spirit Keteladanan Rasulullah SAW dalam Membangun Pelayanan Publik

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Ahmad Fakhruddin Murodih
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Oleh: Ahmad Fakhruddin Murodih (Ketua IPARI Kota Depok, Ketua Komisi Dakwah MUI Kota Depok, & Pengasuh PP. Ittihaadus Syubbaan Kota Depok) Acara: Pembinaan Karakter ASN Pemkot Depok | Rabu, 12 Agustus 2026 لسلام عليكم ورحمة الله وبركاته بسم الله الحمن الرحيم Rasulullah SAW adalah tolok ukur utama dalam kepemimpinan dan tata kelola pelayanan publik. Dalam […]

  • MUI Depok: Al-Qur’an Harus Jadi Kompas Keluarga Hadapi Tantangan Era Digital DEPOK – Arus digitalisasi dan perubahan

    MUI Depok: Al-Qur’an Harus Jadi Kompas Keluarga Hadapi Tantangan Era Digital DEPOK – Arus digitalisasi dan perubahan

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Rohmat Rospari
    • visibility 114
    • 0Komentar

    DEPOK – Arus digitalisasi dan perubahan sosial yang pesat membawa tantangan baru bagi ketahanan keluarga. Menjawab dinamika tersebut, Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI Kota Depok, Siti Barkah Hasanah—yang akrab disapa Cing Ikah—mengimbau masyarakat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam membina rumah tangga.Pesan tersebut disampaikan Cing Ikah saat mengisi kajian bertajuk “Menguatkan […]

  • “Di Era Digital, Ulama dan Dai Mewujudkan Dakwah yang Mencerahkan”

    “Di Era Digital, Ulama dan Dai Mewujudkan Dakwah yang Mencerahkan”

    • calendar_month 8 jam yang lalu
    • account_circle Andre AS.
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Oleh: Andre Anjarkasih S.(Ketua Komisi Infokomdigi MUI Kota Depok) Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW senantiasa menjadi momen spiritual yang sakral sekaligus strategis bagi umat Islam. Setiap tahun, jutaan Muslim memperingati kelahiran Rasulullah SAW sebagai wujud penghormatan dan kerinduan mendalam kepada sosok pembawa risalah kebenaran. Namun, di tengah akselerasi teknologi informasi yang masif, penyampaian pesan keteladanan […]

  • Jika Negara Punya DANANTARA, Umat Punya Apa?  “Koperasi PINBAS: Ikhtiar Membangun Kekuatan Modal Ekonomi Umat di Depok”

    Jika Negara Punya DANANTARA, Umat Punya Apa? “Koperasi PINBAS: Ikhtiar Membangun Kekuatan Modal Ekonomi Umat di Depok”

    • calendar_month 6 jam yang lalu
    • account_circle JiAcep
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Oleh: H. Acep Azhari (Dirut Pinbas) Indonesia memiliki Danantara sebagai lembaga pengelola investasi strategis negara. Singapura memiliki Temasek sebagai perusahaan investasi yang mengelola portofolio aset secara profesional. Keduanya memberikan satu pelajaran penting: kekuatan ekonomi tidak cukup hanya memiliki pelaku usaha. Kita juga membutuhkan kekuatan modal yang mampu dikelola, dikonsolidasikan dan diarahkan untuk pertumbuhan jangka panjang. […]

  • Jamaah Masjid Jami’ Mardhotillah Mampang Depok Gelar Doa Bersama untuk Indonesia, Palestina, dan Iran

    Jamaah Masjid Jami’ Mardhotillah Mampang Depok Gelar Doa Bersama untuk Indonesia, Palestina, dan Iran

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Aas
    • visibility 194
    • 0Komentar

      DEPOK – Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan menyelimuti Masjid Jami’ Mardhotillah, Mampang, Depok. Jamaah bersama jajaran Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) menggelar aksi doa bersama untuk keselamatan Bangsa Indonesia, serta terciptanya kedamaian bagi rakyat Palestina, Iran, dan seluruh umat manusia yang tengah menghadapi penindasan di berbagai belahan dunia. Masjid yg Sempat Viral karena pernah di […]

expand_less