Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Menimbang Gelar, Menakar Keikhlasan. Antara Substansi Ilmu dan Jebakan Simbolik

Menimbang Gelar, Menakar Keikhlasan. Antara Substansi Ilmu dan Jebakan Simbolik

  • account_circle Andre AS.
  • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
  • visibility 67
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Andre Anjarkasih S.(Ketua Komisi Infokomdigi MUI Depok)

Dalam dinamika dunia literasi dan akademik, pencantuman gelar atau titel di belakang nama seorang penulis sering kali dianggap sebagai standar baku. Gelar dipandang sebagai representasi kompetensi, legitimasi ilmiah, serta bentuk penghargaan atas jerih payah menempuh pendidikan tinggi. Namun, di tengah budaya pencitraan yang kian menggejala, kita kerap menjumpai paradoks yang menarik. Sebagian cendekiawan dan ulama justru memilih untuk menyembunyikan atau tidak pernah mencantumkan deretan titel akademis mereka pada buku-buku maupun karya tulis yang diterbitkan.

Ketika hal ini ditanyakan kepada seorang ulama yang memiliki kapasitas keilmuan luas namun memilih anonimitas akademik, jawabannya sering kali sederhana namun mendalam: “Saya menyukainya seperti itu.” Sikap ini memancing sebuah pertanyaan, mana yang benar di antara dua kutub ini, mereka yang menanggalkan atribut, atau mereka yang bangga memamerkan gelar, bahkan tak jarang diwarnai fenomena penggunaan gelar fiktif?

Pilihan untuk tidak menonjolkan gelar akademik berakar kuat pada tradisi moral keilmuan Islam, di mana prinsip tawadhu (kerendahan hati) dan keikhlasan niat menjadi fondasi utama. Para ulama terdahulu senantiasa berhati-hati terhadap penyakit hati yang halus, seperti ujub (membanggakan diri sendiri) dan riya (beramal demi mendapatkan pengujian atau pujian manusia).

Bagi mereka yang mengambil jalan sunyi ini, karya tulis dan ilmu yang disebarkan harus berdiri di atas kakinya sendiri. Mereka tidak ingin pembaca menilai sebuah gagasan berdasarkan seberapa megah titel sang penulis, melainkan murni berdasarkan bobot kebenaran dan kemanfaatan substansi yang disampaikan. Sikap ini sejalan dengan filosofi padi, semakin berisi, ia akan semakin merunduk. Pengakuan sejati seorang cendekiawan bukanlah pada sebaris huruf di belakang namanya, melainkan pada ketulusan kontribusinya bagi umat dan masyarakat.

Di sisi lain, era modern menuntut adanya transparansi kredibilitas. Dalam konteks profesional, birokrasi, atau dunia akademik formal, mencantumkan gelar yang diperoleh secara sah (de jure dan de facto) adalah hal yang wajar dan dibenarkan. Gelar berfungsi sebagai penanda objektif agar masyarakat tahu dari disiplin ilmu mana seseorang memandang dan menganalisis sebuah persoalan.

Pencantuman gelar menjadi tidak menyalahi etika selama diniatkan secara proporsional, sebagai identitas kompetensi profesional, bukan sebagai alat untuk mendominasi ruang sosial atau mendongkrak ego pribadi. Batas pembedanya terletak pada hati nurani, apakah gelar tersebut dipakai untuk memudahkan publik mengenali keahlian, atau justru disematkan untuk memupuk kesombongan?

Persoalan menjadi sangat krusial ketika kita bergeser pada fenomena penyalahgunaan gelar, atau yang sering diistilahkan secara populer sebagai “titel titelan” atau gelar palsu. Menggunakan gelar akademik yang tidak pernah ditempuh, dibeli dari lembaga non-akreditasi atau mencatut titel kehormatan secara sembarangan, adalah bentuk pengkhianatan terhadap etika moral dan hukum positif.

Dalam pandangan Islam, tindakan ini dikategorikan sebagai bentuk kebohongan dan penipuan publik. Seseorang yang membangun kredibilitas palsu demi meraih kehormatan, jabatan, atau pengaruh sosial sedang mempraktikkan manipulasi struktural. Ironisnya, di era digital saat ini, validitas institusional kerap kalah mentereng dibandingkan kemampuan seseorang melakukan pencitraan diri secara artifisial.

Pada akhirnya, tidak ada hukum mutlak yang mewajibkan seseorang untuk memamerkan atau menyembunyikan gelarnya. Apa yang dilakukan oleh ustaz tersebut adalah sebuah pilihan mazhab akhlak, sebuah ikhtiar batin untuk menjaga kemurnian niat agar ilmu tetap menjadi pelita, bukan sekadar komoditas prestise.Sebaliknya, masyarakat pun tidak bisa serta-merta menghakimi mereka yang mencantumkan gelar secara sah, selama hal itu diiringi dengan integritas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ukuran kemuliaan seseorang di hadapan ilmu pengetahuan bukanlah seberapa panjang gelar yang disematkan, melainkan seberapa besar kejujuran intelektual, keluhuran akhlak, dan kemanfaatan nyata yang ia hadirkan bagi peradaban.

  • Penulis: Andre AS.
  • Editor: Aas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menjaga Kerukunan, Merawat Kemaslahatan: Refleksi dan Harapan di Harlah MUI ke-51

    Menjaga Kerukunan, Merawat Kemaslahatan: Refleksi dan Harapan di Harlah MUI ke-51

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Andre Anjarkasih S.
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Oleh: H. Andre Anjarkasih S. (Ketua Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digitalisasi MUI Kota Depok) Menapaki usia ke-51 tahun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus berdiri kokoh sebagai benteng keumatan sekaligus pilar kebangsaan. Sejak awal kelahirannya, MUI secara konsisten menjalankan dua peran strategis yang saling menguatkan: sebagai khadimul ummah (pelayan umat) dan shadiqul hukumah (mitra strategis pemerintah).Di […]

  • “Di Era Digital, Ulama dan Dai Mewujudkan Dakwah yang Mencerahkan”

    “Di Era Digital, Ulama dan Dai Mewujudkan Dakwah yang Mencerahkan”

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle Andre AS.
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Oleh: Andre Anjarkasih S.(Ketua Komisi Infokomdigi MUI Kota Depok) Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW senantiasa menjadi momen spiritual yang sakral sekaligus strategis bagi umat Islam. Setiap tahun, jutaan Muslim memperingati kelahiran Rasulullah SAW sebagai wujud penghormatan dan kerinduan mendalam kepada sosok pembawa risalah kebenaran. Namun, di tengah akselerasi teknologi informasi yang masif, penyampaian pesan keteladanan […]

  • Halal Bazar MUI Menjadi Pondasi Depok Halal Festival 2027 photo_camera 1

    Halal Bazar MUI Menjadi Pondasi Depok Halal Festival 2027

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle JiAcep
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Berangkat dari Kesuksesan Bazar MUI, Siap Perkuat Ekosistem Ekonomi Umat di Depok DEPOK — Suksesnya penyelenggaraan Halal Bazar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok menjadi pemicu lahirnya gagasan besar bertajuk Depok Halal Festival 2027. Ajang ini diproyeksikan menjadi gerakan strategis dalam memperkuat struktur ekonomi umat melalui kolaborasi, promosi, dan pemantapan daya saing pelaku usaha produk […]

  • MUI Kota Depok Siap Gelar Kunjungan Silaturahmi dan Study Banding ke MUI Kabupaten Bandung

    MUI Kota Depok Siap Gelar Kunjungan Silaturahmi dan Study Banding ke MUI Kabupaten Bandung

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle Andre AS.
    • visibility 84
    • 0Komentar

    DEPOK — Dalam rangka meningkatkan sinergi dan mempererat ukhuwah islamiyah antar-lembaga keulamaan, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok mengagendakan kegiatan Kunjungan Silaturahmi dan Study Banding ke MUI Kabupaten Bandung. Kegiatan strategis ini rencananya akan dilangsungkan selama dua hari, yaitu pada hari Rabu hingga Kamis, tanggal 02–03 September 2026 M (bertepatan dengan 20–21 Rabi’ul […]

  • MUI Cimanggis Gelar Pelatihan Dakwah Digital guna Dorong Pengurus Masjid Adaptif di Era Modern

    MUI Cimanggis Gelar Pelatihan Dakwah Digital guna Dorong Pengurus Masjid Adaptif di Era Modern

    • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
    • account_circle Abdul Muhyi
    • visibility 160
    • 0Komentar

    DEPOK — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Cimanggis resmi menggelar Pelatihan Dakwah Digital bagi jajaran pengurus MUI kecamatan serta perwakilan pengurus masjid se-Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. Langkah strategis ini diambil sebagai respons konkret terhadap pesatnya perkembangan teknologi informasi serta pentingnya memperkuat syiar Islam yang sejuk dan mencerahkan di ruang publik digital. Rangkaian acara diawali secara […]

  • Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW, Masjid Al Latief PCR Gelar Pengajian Bersama Warga dan Tokoh Masyarakat

    Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW, Masjid Al Latief PCR Gelar Pengajian Bersama Warga dan Tokoh Masyarakat

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle Andre AS
    • visibility 104
    • 0Komentar

    DEPOK — Menjelang peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Masjid Al Latief PCR menggelar acara Peringatan Maulid Nabi pada Senin (24/8/2026) malam, bertepatan dengan 11 Rabiul Awal 1448 H. Meski kelahiran Rasulullah SAW secara historis jatuh pada 12 Rabiul Awal, pihak pengurus sengaja mengawali kegiatan di malam menjelang hari H. Ketua DKM Masjid Al Latief, […]

expand_less