Breaking News
light_mode
Beranda » Khutbah Jumat » Khutbah Jumat: Bulan Safar, Berkah bagi yang Taat, Sial bagi yang Maksiat

Khutbah Jumat: Bulan Safar, Berkah bagi yang Taat, Sial bagi yang Maksiat

  • account_circle admin
  • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
  • visibility 63
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: KH A Muzaini Aziz, Lc., M.A, Sekretaris 2 MUI Kota Tangerang

Khutbah I

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي شَرَعَ لَنَا دِيْنًا قَوِيْمًا، وَهَدَانَا إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَوَعَدَ مَنْ لَزِمَ الصِّرَاطَ أَجْرًا جَزِيلاً وَتَوَابًا عَظِيمًا، وَتَوَعْدَ مَنْ حَادَ عَنْهُ بِأَنَّ لَهُ عَذَابًا أَلِيمًا. أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إِلَّا اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَصَفِيهُ مِنْ خَلْقِهِ وَخَلِيْلَهُ اللَّهُمَّ صَلَّ وَزِدْ وَبَارِكْ عَلَى النَّبِيِّ الْمُخْتَارِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الأطهار الأخيار، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى دَارِ القَرَارِ، وَسَلِّمْ عَلَيهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا.

أما بعد، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى العزيز الغفار.

فَقَدْ قَالَ تَعَالَى (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Di hari yang mulia ini, mari kita basahi lisan kita dengan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT, Dzat yang telah menghamparkan bumi sebagai tempat berlabuh dan menghiasi jiwa kita dengan iman sebagai kompas kehidupan.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada sang pembawa lentera kebenaran, Baginda Nabi Muhammad SAW, pribadi yang tidak hanya membangun rumah ibadah, namun juga membangun fondasi kemanusiaan yang abadi.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Saat ini kita tengah berada di bulan Safar, bulan kedua dari 12 bulan Kalender Hijriyah.

Di antara keunikan bulan Safar adalah adanya kepercayaan sebagian kalangan bahwa bulan Shafar ini adalah bulan yang penuh kesialan dan kenahasan, khususnya di hari Rabu terakhir di bulan Safar, yang di sebagian daerah biasa disebut dengan istilah “Rabu Wekasan”.

Akibat dari keyakinan tersebut, di bulan Safar sebagian orang merasa khawatir untuk menikah, mengambil keputusan penting, mengeksekusi rencana bisnis, melakukan perjalanan jauh dan sebagainya, karena takut tertimpa kesialan saat melakukan hal itu semua.

Lalu bagaimana pandangan Islam terkait kepercayaan bahwa Safar adalah bulan sial atau nahas ini?

Jamaah Jumat yang Berlimpah Rahmat dari Allah SWT,

Mari sejenak kita perhatikan hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَة وَلَا صَفَرَ

“Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a, dari Nabi SAW, beliau bersabda: ‘Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya (tanpa izin Allah), tidak boleh meramal dengan burung, tidak boleh berprasangka buruk akan datangnya bencana dan tidak ada keburukan (kenahasan atau kesialan) di bulan Shafar.'” (HR Al-Bukhari)

Zumratal Mukminin Rahimakumullah,

Penting untuk kita ketahui bahwa keyakinan tentang kesialan atau kenahasan di bulan Safar bukan hanya ada di kalangan sebagian umat Islam Indonesia saja, ternyata kepercayaan jenis ini adalah warisan zaman Jahiliyah.

Di dalam kitab Sunan Abi Daud, terdapat hadis yang menyinggung hal itu. Disebutkan bahwa ada seorang sahabat menyampaikan kabar kepada Nabi mengenai kepercayaan orang jahiliyah terkait kesialan di bulan Safar.

سَمِعْتُ أَنْ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ يَسْتَشْنِمُونَ بِصَفر، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا صَفَرَ

“Aku mendengar bahwa orang-orang Jahiliyah meyakini kesialan pada bulan Shafar, maka Nabi SAW pun bersabda: ‘Tidak ada (kesialan) pada bulan Shafar.'” 

Lebih jauh lagi, di dalam kitab Al-Fatawa al-Haditsiyyah, pada halaman 20 termaktub bahwa ketika Imam Ibnu Hajar al-Haitami (seorang ulama besar dari mazhab Syafi’i) ditanya tentang kesialan dan kebahagiaan (keberuntungan) serta tentang hari-hari dan malam-malam yang tepat untuk mengadakan perjalanan atau perpindahan, maka jawaban beliau adalah sebagai berikut:

مَنْ يَسْأَلُ عَنِ النَّحَسِ وَمَا بَعْدَهُ لا يُجَابُ إِلا بِالإِعْرَاضِ عَنْهُ وَتَسْفِيْهِ مَا فَعَلَهُ وَيُبَيِّنُ لَهُ قَبْحَهُ، وَأَنْ ذلِكَ مِنْ سُنَّةِ الْيَهُودِ لَا مِنْ هَدْيِ الْمُسْلِمِينَ الْمُتَوَكِّلِينَ عَلَى خَالِقِهِمْ وَبَارِئِهِمُ الَّذِينَ لَا يَحْسَبُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ، وَمَا يُنْقَلُ مِنَ الْأَيَّامِ الْمَنْقُوطَةِ وَنَحْوهَا عَنْ عَلِيّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ بَاطِلٌ كَذَبٌ لَا أَصْلَ لَهُ فَلْيَحْذَرْ مِنْ ذَلِكَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

“Barang siapa bertanya tentang (hari) sial dan sebagainya maka tidak perlu dijawab pertanyaannya tersebut, kecuali dengan sikap memalingkan diri darinya (sebagai tanda kebencian terhadap apa yang ditanyakan) dan membodohkan apa yang ia lakukan itu dan menerangkan keburukan hal tersebut kepadanya, sesungguhnya semua itu merupakan tradisi orang Yahudi dan bukan termasuk ajaran kaum muslimin yang berserah diri kepada Sang Maha Penciptanya, yang tidak main hitung-hitungan (ramalan keberuntungan dan kesialan) dan terhadap Tuhannya selalu bertawakal. Dan apa yang dikutip dari sahabat Ali karramallahu wajhah tentang hari-hari nahas, hal tersebut adalah batil dan dusta serta tidak ada dasarnya sama sekali. Maka berhati-hatilah dari semua itu. Wallahu A’lam.”

Ma’asyiral Mukminin Rahimakumullah,

Sebagai hamba Allah yang beriman, tentu kita harus kritis dan meluruskan kepercayaan batil seperti ini. Keyakinan bahwa bulan Safar penuh dengan kesialan dan membawa kenahasan adalah warisan dari tradisi Yahudi, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i, dan juga residu dari tradisi jahiliyah, sebagaimana yang diungkap di dalam Sunan Abi Daud di atas.

Keyakinan seperti ini setidaknya memiliki efek buruk sebagaimana berikut:

Pertama, dapat menodai akidah dan tauhid kita. Akibat dari keyakinan tersebut kita menjadi percaya bahwa makhluk, waktu atau hal lainnya memiliki kekuatan untuk mencelakakan manusia.

Kedua, dapat merusak mental kita. Jika kita percaya pada kesialan dan kenahasan suatu waktu tertentu, kita akan hidup dalam pesimisme dan dihantui keragu-raguan, bahkan juga ketakutan untuk melangkah.

Dalam akidah Islam, segala kebaikan dan keburukan, manfaat dan mudharat, semua hanya dapat terjadi atas izin Allah SWT, bukan karena kalender atau waktu tertentu. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam surat At-Taghabun ayat 11:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Kaffatal Muwahhidin Rahimakumullah,

Secara prinsipil, semestinya kita sadari bahwa seluruh detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun yang kita lalui hanya berisi kesialan dan kenahasan serta kerugian bagi kita semua, kecuali jika kita menjalani semua waktu tersebut dalam bingkai keimanan kepada Allah SWT danbmemanfaatkannya untuk beramal saleh, serta saling mengingatkan satu sama lain tentang kebaikan.

Bukankah kita sudah hapal dan mengerti firman Allah SWT dalam surat Al-‘Ashr berikut:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصلحاتِ وَتَوَاصَوْا بِالحَقِّ ، وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa (waktu). Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Shadaqallahul ‘Adhim. Mahabenar Allah atas segala firman-Nya.

Demikianlah yang bisa khatib sampaikan. Semoga Allah SWT menghindarkan kita dari berbagai kepercayaan dan keyakinan yang dapat menggerus keimanan kita.

Semoga Allah SWT mengokohkan keyakinan kita, bahwa hanya kepada-Nya kita berlindung dan hanya kepada-Nya kita berserah diri. Dan semoga Allah mudahkan kita untuk dapat mengisi setiap waktu yang berjalan dalam hidup kita dengan amal saleh yang diridhai-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

بارك اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآن الكريم وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنّي وَمِنْكُمْ  تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيم

أقولُ قَوْلِي هذا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Sumber: https://mui.or.id/

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Zuhud Modern: Memegang Dunia di Tangan, Bukan Menyimpannya di Hati

    Zuhud Modern: Memegang Dunia di Tangan, Bukan Menyimpannya di Hati

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle Rohmat Rospari
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Oleh: Rohmat Rospari PendahuluanDi era kompetisi global dan kemajuan teknologi digital, standar kesuksesan kerap kali diukur secara kuantitatif: besarnya nominal pendapatan, kepemilikan aset mewah, hingga popularitas di media sosial. Tidak sedikit individu yang mencurahkan seluruh energi dan waktunya demi mengejar kemewahan finansial, namun pada akhirnya kehilangan ketenangan batin (inner peace).Padahal, jauh sebelum era modern ini […]

  • Transformasi Dakwah di Era Digital: Dari Media Sosial Hingga AI, Saatnya Ulama Mewarnai

    Transformasi Dakwah di Era Digital: Dari Media Sosial Hingga AI, Saatnya Ulama Mewarnai

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle H. Andre Anjarkasih S.
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Oleh: H. Andre Anjarkasih S. (Ketua Komisi Infokomdigi MUI Kota Depok) Evolusi Teknologi dan Lahirnya Ruang Baru Jika kita menengok sejarah perkembangan teknologi komunikasi, perjalanannya berlangsung sangat pesat. Kita tentu ingat era pager, telepon genggam biasa, kejayaan BlackBerry, hingga akhirnya era smartphone seperti saat ini. Perkembangan besar mulai terasa signifikan ketika aplikasi pesan instan seperti […]

  • Sambut Era Digital, MUI Kota Depok Luncurkan Podcast Dakwah untuk Jangkau Gen Z DEPOK photo_camera 17

    Sambut Era Digital, MUI Kota Depok Luncurkan Podcast Dakwah untuk Jangkau Gen Z DEPOK

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Aas
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Depok – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok mengambil langkah progresif dalam merespons perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. Melalui Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digitalisasi (Infokomdigi) yang dipimpin oleh H. Andre Anjarkasih S., MUI Kota Depok resmi menginisiasi program Podcast dan dakwah digital sebagai strategi baru menyebarkan syiar Islam. Langkah adaptif ini menjadi angin segar bagi […]

  • Ulama di Era Digital: Berdakwah Menembus Batas Ruang dan Waktu photo_camera 1

    Ulama di Era Digital: Berdakwah Menembus Batas Ruang dan Waktu

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle H. Ali Wartadinata
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara masyarakat memperoleh informasi keagamaan. Jika dahulu majelis taklim, masjid, dan mimbar menjadi ruang utama penyampaian dakwah, kini media sosial, website, podcast, hingga kanal video telah menjadi “mimbar baru” yang menjangkau jutaan orang tanpa dibatasi ruang dan waktu. Fenomena ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan […]

  • Menjaga Kerukunan, Merawat Kemaslahatan: Refleksi dan Harapan di Harlah MUI ke-51

    Menjaga Kerukunan, Merawat Kemaslahatan: Refleksi dan Harapan di Harlah MUI ke-51

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Andre Anjarkasih S.
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Oleh: H. Andre Anjarkasih S. (Ketua Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digitalisasi MUI Kota Depok) Menapaki usia ke-51 tahun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus berdiri kokoh sebagai benteng keumatan sekaligus pilar kebangsaan. Sejak awal kelahirannya, MUI secara konsisten menjalankan dua peran strategis yang saling menguatkan: sebagai khadimul ummah (pelayan umat) dan shadiqul hukumah (mitra strategis pemerintah).Di […]

  • MUI Depok: Al-Qur’an Harus Jadi Kompas Keluarga Hadapi Tantangan Era Digital DEPOK – Arus digitalisasi dan perubahan

    MUI Depok: Al-Qur’an Harus Jadi Kompas Keluarga Hadapi Tantangan Era Digital DEPOK – Arus digitalisasi dan perubahan

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Rohmat Rospari
    • visibility 37
    • 0Komentar

    DEPOK – Arus digitalisasi dan perubahan sosial yang pesat membawa tantangan baru bagi ketahanan keluarga. Menjawab dinamika tersebut, Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI Kota Depok, Siti Barkah Hasanah—yang akrab disapa Cing Ikah—mengimbau masyarakat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam membina rumah tangga.Pesan tersebut disampaikan Cing Ikah saat mengisi kajian bertajuk “Menguatkan […]

expand_less