Khotbah Jumat di Kejagung: Ketua Komisi Dakwah MUI Depok Ajak Jamaah Refleksikan Syukur Melalui Sayyidul Ayyam
- account_circle Aas
- calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
- visibility 69
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA — Suasana khusyuk dan penuh hidmat menyelimuti Masjid Gedung Bunder Kejaksaan Agung RI pada pelaksanaan ibadah salat Jumat (7/8/2026). Bertindak sebagai khatib, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, KH. Ahmad Fakhruddin Murodih, menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya refleksi rasa syukur dan memuliakan hal-hal yang dihormati di sisi Allah SWT.
Mengawali khotbahnya dengan hamdalah, salawat, serta wasiat takwa, KH. Ahmad Fakhruddin mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 30:
“Dzalika wamay yu’adzim hurmatillahi fahuwa khairul lahu ‘inda rabbihi”
(Demikianlah, dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah baik baginya di sisi Tuhannya).
Waktu dan Hari Jumat Sebagai Keadaan yang Terhormat
Menjelaskan ayat tersebut, KH. Ahmad Fakhruddin mengutip pandangan ulama besar Makkah, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, bahwa di bumi ini terdapat waktu, hari, benda, hingga manusia tertentu yang memiliki kedudukan terhormat di hadapan Allah.
Dalam konteks waktu mingguan, hari Jumat memegang peranan istimewa sebagai Sayyidul Ayyam (penghulu para hari). Keagungan hari ini bahkan diabadikan secara khusus dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Jumu’ah.
”Al-Jumu’ah berakar dari kata Al-Jam’u yang berarti berkumpul. Berkumpulnya kita untuk menunaikan salat Jumat adalah bentuk refleksi syukur yang utama,” ujar khatib di hadapan para pimpinan dan jamaah Kejaksaan Agung RI.
Beliau menambahkan bahwa hari Jumat juga bernilai sebagai hari raya (‘Aid) bagi umat Islam, memperingati momentum diciptakannya pencipta sekaligus bapak manusia, Nabi Adam AS.
Tiga Pilar Syukur Pekerja dan Aparat Negara
- Lebih lanjut, dalam muatan khotbahnya, KH. Ahmad Fakhruddin menekankan tiga wujud nyata refleksi syukur yang perlu senantiasa dihadirkan oleh seorang muslim, khususnya para aparatur dan pekerja:
- Ketaatan Beribadah: Menjaga konsistensi berkumpul dan menunaikan kewajiban salat Jumat setiap minggunya.
- Menjaga Kesehatan Fisik: Mensyukuri nikmat sehat dengan tidak adanya alat-alat medis yang menempel pada tubuh dari satu Jumat ke Jumat berikutnya.
Infaq dari Hasil Usaha (Maisyah): Menyisihkan sebagian rezeki dari berbagai profesi, disiplin ilmu, dan kemampuannya—baik berniaga maupun bekerja—ke dalam kotak infaq/majelis Jumat sebagai bukti komitmen kepedulian sosial dan ketaatan.
Mengakhiri khotbahnya, KH. Ahmad Fakhruddin mendoakan agar seluruh jamaah yang telah menunaikan ibadah, menjaga kesehatan, dan menyisihkan sebagian rezekinya senantiasa mendapatkan kebaikan (khairun lahu) berlipat ganda dari Allah SWT.
- Penulis: Aas
- Editor: Aas

Saat ini belum ada komentar