Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Dialektika Ikhtiar dan Keyakinan di Era Disrupsi

Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Dialektika Ikhtiar dan Keyakinan di Era Disrupsi

  • account_circle Rohmat Rospari
  • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
  • visibility 119
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Rohmat Rospari


Pendahuluan
Di tengah dinamika ekonomi global, persaingan dunia kerja yang kian kompetitif, serta tingginya volatilitas kehidupan modern, kecemasan finansial kerap menjadi beban psikologis tersendiri bagi masyarakat. Sebuah pertanyaan eksistensial yang kerap memicu ketegangan mental adalah: Apakah rezeki saya akan mencukupi masa depan? Ironisnya, di era di mana kemajuan teknologi dan akses informasi berada pada puncaknya, tingkat ketidakpastian dan kecemasan hidup manusia justru semakin membesar.


Rezeki sebagai Dimensi Akidah, Bukan Sekadar Transaksi Ekonomi

Islam melampaui paradigma konvensional yang memandang rezeki semata-mata sebagai output ekonomi atas input kerja keras. Dalam diskursus Islam, rezeki adalah persoalan akidah dan tauhid. Seberapa kokoh keyakinan seseorang kepada Allah SWT tercermin secara langsung dari caranya bersikap terhadap rezeki—baik yang sedang diupayakan maupun yang belum diraih.
Ulama sufi ternama, Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari, dalam karya puncaknya Al-Hikam, memberikan kritik spiritual yang amat relevan dengan kondisi manusia modern:
“Mengapa engkau berpayah-payah secara berlebihan terhadap sesuatu yang telah dijamin untukmu, sementara engkau melalaikan kewajiban yang dituntut darimu?”
Pernyataan ini bukanlah dorongan menuju fatalisme atau pasivitas ekonomi (qu’ūd). Sebaliknya, Ibnu ‘Athaillah sedang meluruskan orientasi spiritual (sanubari). Yang dikritik adalah haras (ketakutan berlebihan) yang mengikis ketenangan jiwa dan memalingkan manusia dari Sang Maha Penjamin. Banyak profesional bekerja tanpa kenal batas waktu namun kehilangan kedamaian mental. Sebaliknya, tidak sedikit individu yang hidup sederhana namun memiliki stabilitas emosional yang kuat karena menyadari hakikat Allah sebagai Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki).


Integrasi Ikhtiar dan Tauhid dalam Surah Al-Mulk: 15–17

Landasan fundamental mengenai etika kerja dan keyakinan ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu dibangkitkan.” — QS. Al-Mulk [67]: 15

Eksegesis atas ayat ini menunjukkan dua dimensi yang saling melengkapi:
1. Dimensi Ketersediaan dan Facilitation (Dzalūlan) Pakar tafsir Prof. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan              bahwa kata dzalūlan mencerminkan rahmat Allah. Bumi diciptakan dalam kondisi yang tunduk dan adaptif agar manusia dapat            melakukan mobilitas, riset, perdagangan, dan pembangunan peradaban.
2. Dimensi Aksi dan Profesionalisme (Famsyū fī Manākibihā) Klausa ini merupakan imperatif moral untuk bertindak: bekerja    keras,  berinovasi, dan menjemput kemandirian ekonomi secara halal tanpa menggantungkan martabat diri pada makhluk lain.
Menariknya, pada ayat 16–17 berikutnya, Al-Qur’an secara kontekstual mengingatkan manusia akan potensi bencana alam dan kekuasaan mutlak-Nya. Pemetaan ayat ini memberikan pesan epistemologis yang mendalam: Manusia dituntut berikhtiar secara profesional pada tataran fisik, namun diharamkan menggantungkan takdir hidupnya semata-mata pada pekerjaan tersebut. Hasil akhir berada sepenuhnya dalam otoritas Ilahi.


Tipologi Respons Al-Qur’an terhadap Orientasi Hidup

Al-Qur’an menetapkan pola kerja (action plan) yang proporsional sesuai dengan derajat dan kriteria tujuan yang ingin dicapai:
* Tujuan / Orientasi
Bentuk Ikhtiar Menurut Al-Qur’an
Rujukan Ayat
* Pencarian Rezeki Materi
Aktif, produktif, dan berorientasi pada proses (Famsyū)
QS. Al-Mulk [67]: 15
* Ampunan & Pengampunan
Bersegera, tidak menunda-nunda (Wa Sāri‘ū)
QS. Ali ‘Imran [3]: 133
Ketenangan Jiwa & Mental
Intensitas zikir yang konsisten dan berkesinambungan
QS. Al-Ahzab [33]: 41
* Keberkahan & Keunggulan
Berlomba-lomba dalam standar kebaikan (Fastabiqul Khairāt)
QS. Al-Baqarah [2]: 148


Relevansi dan Implikasi Modern

Dalam lanskap kehidupan hari ini, ketidakseimbangan memicu dua ekstremitas:
* Eksploitasi Diri (Burnout): Terjadi ketika seseorang menganggap bahwa hasil dan nominal rezeki sepenuhnya ditentukan oleh kecerdasan atau jam kerjanya semata, yang sering kali berujung pada krisis integritas.
* Pasivitas Fatalistik: Bersembunyi di balik narasi kepasrahan (tawakal yang keliru), padahal mengabaikan ikhtiar merupakan tindakan    yang bertentangan dengan sunnatullah.
Tauhid atas rezeki hadir sebagai keseimbangan holistik:
* Secara Fisik-Profesional: Bekerja dengan etika tertinggi (itqān), berorientasi pada kualitas, dan menganggap pekerjaan sebagai instrumen ibadah.
* Secara Mental-Spiritual: Memelihara ketenangan batin (rida) saat dinamika lapangan tidak sesuai ekspektasi, karena meyakini bahwa tolok ukur utama rezeki bukanlah sekadar akumulasi aset, melainkan keberkahan yang menyertainya.


Penutup
Indikator keberhasilan seorang mukmin tidak diukur dari seberapa besar kekayaan yang berhasil dihimpun, melainkan seberapa kokoh tauhidnya tatkala berhadapan dengan dinamika kehidupan. Rezeki bukan sekadar materi yang masuk ke dalam dompet, melainkan ketenteraman yang bersemayam di dalam dada. Ketika tauhid diteguhkan dan ikhtiar dijalankan secara terukur, kecemasan akan sirna digantikan oleh optimisme. Bekerja adalah bentuk pengabdian, rezeki adalah karunia, dan kepada Allah SWT seluruh muara kehidupan dikembalikan.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.

Tags
  • Penulis: Rohmat Rospari
  • Editor: Aas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 📢 WEBINAR I WASILAH PKU  X MUI KOTA DEPOK

    📢 WEBINAR I WASILAH PKU X MUI KOTA DEPOK

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle muidepok
    • visibility 139
    • 0Komentar

      Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, PKU WASILAH MUI Kota Depok mempersembahkan webinar dengan tema: 🎙️ ”Depok dalam Bingkai Merah Putih: Sejarah, Budaya, dan Keislaman yang Menghidupkan Identitas Kota Maju.” 🎤Keynote Speaker DR. K.H. Abdul Waidl Ketua Bagian PKU MUI Kota Depok ✨ Narasumber: 👤 Baba H. Ahmad Dahlan […]

  • Gebyar Muharram dan Santunan Yatim Tandai Milad MUI ke-51

    Gebyar Muharram dan Santunan Yatim Tandai Milad MUI ke-51

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle muidepok
    • visibility 113
    • 0Komentar

    DEPOK-Komisi Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok menggelar acara Gebyar Muharram dan Santunan Anak Yatim. Peringatan tersebut juga dalam rangka menyambut Milad MUI ke-51 (26 Juli 1975-26 Juli 2026). “Melalui Gebyar Muharram dan Santunan Anak Yatim kita mengajak kepada semua pihak bahwa di Depok masih banyak anak yang berstatus yatim. Mereka ini […]

  • FKUB dan MUI Kota Depok Luruskan Isu Toleransi: Kendala Izin Rumah Ibadah Mayoritas Dipicu Masalah Administrasi

    FKUB dan MUI Kota Depok Luruskan Isu Toleransi: Kendala Izin Rumah Ibadah Mayoritas Dipicu Masalah Administrasi

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle Aas
    • visibility 134
    • 0Komentar

      DEPOK — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Depok bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok memberikan klarifikasi terkait dinamika kerukunan umat beragama dan perizinan rumah ibadah di wilayah Depok. Dalam program podcast Bincang Ulama yang ditayangkan di kanal TV MUI Kota Depok, Ketua FKUB Kota Depok, Kiai Ghoni, menegaskan bahwa akar masalah utama […]

  • Meneladani Rasulullah dalam Melayani Depok: Dari Iman, Islam, hingga Ihsan

    Meneladani Rasulullah dalam Melayani Depok: Dari Iman, Islam, hingga Ihsan

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle Rohmat Rispari
    • visibility 65
    • 0Komentar

    ( Oleh : Rohmat Rospari, SE.MM) Ada sebuah nikmat yang sering kali luput kita syukuri: kesempatan untuk mengabdi kepada masyarakat di Kota Depok, kota yang kita cintai dan menjadi ruang bersama bagi jutaan harapan. Menjadi pelayan publik sesungguhnya bukan sekadar menjalankan pekerjaan. Di balik meja pelayanan, dokumen administrasi, program pembangunan, bantuan sosial, dan berbagai kebijakan […]

  • Peringati Maulid Nabi SAW, Forum Ketua-Ketua MUI Kecamatan Se-Kota Depok Gelar Silaturahmi di Masjid Jami Daruttaqwa Krukut

    Peringati Maulid Nabi SAW, Forum Ketua-Ketua MUI Kecamatan Se-Kota Depok Gelar Silaturahmi di Masjid Jami Daruttaqwa Krukut

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Andre AS.
    • visibility 74
    • 0Komentar

    DEPOK — Forum Ketua-Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Se-Kota Depok menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung khidmat di Masjid Jami Daruttaqwa, Krukut, Limo, Depok. Agenda ini menjadi momentum penguat tali silaturahmi antara alim ulama, tokoh masyarakat, dan jajaran pemerintah daerah. Acara tersebut dihadiri oleh jajaran pejabat daerah, tokoh agama, serta elemen masyarakat. […]

  • Menimbang Gelar, Menakar Keikhlasan. Antara Substansi Ilmu dan Jebakan Simbolik

    Menimbang Gelar, Menakar Keikhlasan. Antara Substansi Ilmu dan Jebakan Simbolik

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • account_circle Andre AS.
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Oleh: Andre Anjarkasih S.(Ketua Komisi Infokomdigi MUI Depok) Dalam dinamika dunia literasi dan akademik, pencantuman gelar atau titel di belakang nama seorang penulis sering kali dianggap sebagai standar baku. Gelar dipandang sebagai representasi kompetensi, legitimasi ilmiah, serta bentuk penghargaan atas jerih payah menempuh pendidikan tinggi. Namun, di tengah budaya pencitraan yang kian menggejala, kita kerap […]

expand_less