Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Dialektika Ikhtiar dan Keyakinan di Era Disrupsi

Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Dialektika Ikhtiar dan Keyakinan di Era Disrupsi

  • account_circle Rohmat Rospari
  • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Rohmat Rospari


Pendahuluan
Di tengah dinamika ekonomi global, persaingan dunia kerja yang kian kompetitif, serta tingginya volatilitas kehidupan modern, kecemasan finansial kerap menjadi beban psikologis tersendiri bagi masyarakat. Sebuah pertanyaan eksistensial yang kerap memicu ketegangan mental adalah: Apakah rezeki saya akan mencukupi masa depan? Ironisnya, di era di mana kemajuan teknologi dan akses informasi berada pada puncaknya, tingkat ketidakpastian dan kecemasan hidup manusia justru semakin membesar.


Rezeki sebagai Dimensi Akidah, Bukan Sekadar Transaksi Ekonomi

Islam melampaui paradigma konvensional yang memandang rezeki semata-mata sebagai output ekonomi atas input kerja keras. Dalam diskursus Islam, rezeki adalah persoalan akidah dan tauhid. Seberapa kokoh keyakinan seseorang kepada Allah SWT tercermin secara langsung dari caranya bersikap terhadap rezeki—baik yang sedang diupayakan maupun yang belum diraih.
Ulama sufi ternama, Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari, dalam karya puncaknya Al-Hikam, memberikan kritik spiritual yang amat relevan dengan kondisi manusia modern:
“Mengapa engkau berpayah-payah secara berlebihan terhadap sesuatu yang telah dijamin untukmu, sementara engkau melalaikan kewajiban yang dituntut darimu?”
Pernyataan ini bukanlah dorongan menuju fatalisme atau pasivitas ekonomi (qu’ūd). Sebaliknya, Ibnu ‘Athaillah sedang meluruskan orientasi spiritual (sanubari). Yang dikritik adalah haras (ketakutan berlebihan) yang mengikis ketenangan jiwa dan memalingkan manusia dari Sang Maha Penjamin. Banyak profesional bekerja tanpa kenal batas waktu namun kehilangan kedamaian mental. Sebaliknya, tidak sedikit individu yang hidup sederhana namun memiliki stabilitas emosional yang kuat karena menyadari hakikat Allah sebagai Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki).


Integrasi Ikhtiar dan Tauhid dalam Surah Al-Mulk: 15–17

Landasan fundamental mengenai etika kerja dan keyakinan ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu dibangkitkan.” — QS. Al-Mulk [67]: 15

Eksegesis atas ayat ini menunjukkan dua dimensi yang saling melengkapi:
1. Dimensi Ketersediaan dan Facilitation (Dzalūlan) Pakar tafsir Prof. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan              bahwa kata dzalūlan mencerminkan rahmat Allah. Bumi diciptakan dalam kondisi yang tunduk dan adaptif agar manusia dapat            melakukan mobilitas, riset, perdagangan, dan pembangunan peradaban.
2. Dimensi Aksi dan Profesionalisme (Famsyū fī Manākibihā) Klausa ini merupakan imperatif moral untuk bertindak: bekerja    keras,  berinovasi, dan menjemput kemandirian ekonomi secara halal tanpa menggantungkan martabat diri pada makhluk lain.
Menariknya, pada ayat 16–17 berikutnya, Al-Qur’an secara kontekstual mengingatkan manusia akan potensi bencana alam dan kekuasaan mutlak-Nya. Pemetaan ayat ini memberikan pesan epistemologis yang mendalam: Manusia dituntut berikhtiar secara profesional pada tataran fisik, namun diharamkan menggantungkan takdir hidupnya semata-mata pada pekerjaan tersebut. Hasil akhir berada sepenuhnya dalam otoritas Ilahi.


Tipologi Respons Al-Qur’an terhadap Orientasi Hidup

Al-Qur’an menetapkan pola kerja (action plan) yang proporsional sesuai dengan derajat dan kriteria tujuan yang ingin dicapai:
* Tujuan / Orientasi
Bentuk Ikhtiar Menurut Al-Qur’an
Rujukan Ayat
* Pencarian Rezeki Materi
Aktif, produktif, dan berorientasi pada proses (Famsyū)
QS. Al-Mulk [67]: 15
* Ampunan & Pengampunan
Bersegera, tidak menunda-nunda (Wa Sāri‘ū)
QS. Ali ‘Imran [3]: 133
Ketenangan Jiwa & Mental
Intensitas zikir yang konsisten dan berkesinambungan
QS. Al-Ahzab [33]: 41
* Keberkahan & Keunggulan
Berlomba-lomba dalam standar kebaikan (Fastabiqul Khairāt)
QS. Al-Baqarah [2]: 148


Relevansi dan Implikasi Modern

Dalam lanskap kehidupan hari ini, ketidakseimbangan memicu dua ekstremitas:
* Eksploitasi Diri (Burnout): Terjadi ketika seseorang menganggap bahwa hasil dan nominal rezeki sepenuhnya ditentukan oleh kecerdasan atau jam kerjanya semata, yang sering kali berujung pada krisis integritas.
* Pasivitas Fatalistik: Bersembunyi di balik narasi kepasrahan (tawakal yang keliru), padahal mengabaikan ikhtiar merupakan tindakan    yang bertentangan dengan sunnatullah.
Tauhid atas rezeki hadir sebagai keseimbangan holistik:
* Secara Fisik-Profesional: Bekerja dengan etika tertinggi (itqān), berorientasi pada kualitas, dan menganggap pekerjaan sebagai instrumen ibadah.
* Secara Mental-Spiritual: Memelihara ketenangan batin (rida) saat dinamika lapangan tidak sesuai ekspektasi, karena meyakini bahwa tolok ukur utama rezeki bukanlah sekadar akumulasi aset, melainkan keberkahan yang menyertainya.


Penutup
Indikator keberhasilan seorang mukmin tidak diukur dari seberapa besar kekayaan yang berhasil dihimpun, melainkan seberapa kokoh tauhidnya tatkala berhadapan dengan dinamika kehidupan. Rezeki bukan sekadar materi yang masuk ke dalam dompet, melainkan ketenteraman yang bersemayam di dalam dada. Ketika tauhid diteguhkan dan ikhtiar dijalankan secara terukur, kecemasan akan sirna digantikan oleh optimisme. Bekerja adalah bentuk pengabdian, rezeki adalah karunia, dan kepada Allah SWT seluruh muara kehidupan dikembalikan.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.

Tags
  • Penulis: Rohmat Rospari
  • Editor: Aas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MUI Kecamatan Bojongsari Kunker Ke MUI Cilegon

    MUI Kecamatan Bojongsari Kunker Ke MUI Cilegon

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Aan
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Depok-Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Bojongsari, Kota Depok melaksanakan kunjungan kerja ke MUI Kota Cilegon, Kamis (09/07). Kegiatan ini menjadi ajang mempererat silaturahmi sekaligus belajar mengenai pengelolaan organisasi dan pengembangan program kerja yang telah berhasil diterapkan di Kota Cilegon. Rombongan MUI Bojongsari dipimpin Ketua MUI Kecamatan Bojongsari KH Ahmad Jalaludin dan diikuti Camat Bojongsari Suryana […]

  • Menjaga Kerukunan, Merawat Kemaslahatan: Refleksi dan Harapan di Harlah MUI ke-51

    Menjaga Kerukunan, Merawat Kemaslahatan: Refleksi dan Harapan di Harlah MUI ke-51

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Andre Anjarkasih S.
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Oleh: H. Andre Anjarkasih S. (Ketua Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digitalisasi MUI Kota Depok) Menapaki usia ke-51 tahun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus berdiri kokoh sebagai benteng keumatan sekaligus pilar kebangsaan. Sejak awal kelahirannya, MUI secara konsisten menjalankan dua peran strategis yang saling menguatkan: sebagai khadimul ummah (pelayan umat) dan shadiqul hukumah (mitra strategis pemerintah).Di […]

  • Selamat Harlah MUI ke 51

    Selamat Harlah MUI ke 51

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Ahmad Fihri
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Refleksi Harlah MUI ke 5126 Juli 2026 Khidmah :Bukan tentang siapa yang paling lama berjalanBukan tentang siapa yang paling sering terlihat di panggung depan Khidmah :tentang melangkah – meski lelah. Tentang bertahan – meski tak mendapat tepuk tangan. Khidmah :tentang ikhlas karena tujuan –bukan selebritas untuk pujian Tetap tegak saat dibenci, tidak tumbang karena dibully […]

  • Jamaah Masjid Jami’ Mardhotillah Mampang Depok Gelar Doa Bersama untuk Indonesia, Palestina, dan Iran

    Jamaah Masjid Jami’ Mardhotillah Mampang Depok Gelar Doa Bersama untuk Indonesia, Palestina, dan Iran

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Aas
    • visibility 121
    • 0Komentar

      DEPOK – Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan menyelimuti Masjid Jami’ Mardhotillah, Mampang, Depok. Jamaah bersama jajaran Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) menggelar aksi doa bersama untuk keselamatan Bangsa Indonesia, serta terciptanya kedamaian bagi rakyat Palestina, Iran, dan seluruh umat manusia yang tengah menghadapi penindasan di berbagai belahan dunia. Masjid yg Sempat Viral karena pernah di […]

  • Momen Peringatan Hari Besar Islam di Depok: K.H. Abu Bakar Madris Tekankan Pentingnya Keharmonisan dan Kerukunan Keluarga

    Momen Peringatan Hari Besar Islam di Depok: K.H. Abu Bakar Madris Tekankan Pentingnya Keharmonisan dan Kerukunan Keluarga

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Aas
    • visibility 51
    • 0Komentar

    DEPOK — Acara peringatan Hari Besar Islam yang dirangkaikan dengan santunan anak yatim dan doa tutup kegiatan di Kota Depok berlangsung khidmat. Kegiatan tersebut diisi dengan penyampaian mauidzah hasanah atau tausyiah oleh ulama ternama, K.H. Abu Bakar Madris. Dalam ceramahnya yang penuh keakraban dan diselingi kelakar, K.H. Abu Bakar Madris menyampaikan pesan mendalam mengenai hikmah […]

  • Ulama di Era Digital: Berdakwah Menembus Batas Ruang dan Waktu photo_camera 1

    Ulama di Era Digital: Berdakwah Menembus Batas Ruang dan Waktu

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle H. Ali Wartadinata
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara masyarakat memperoleh informasi keagamaan. Jika dahulu majelis taklim, masjid, dan mimbar menjadi ruang utama penyampaian dakwah, kini media sosial, website, podcast, hingga kanal video telah menjadi “mimbar baru” yang menjangkau jutaan orang tanpa dibatasi ruang dan waktu. Fenomena ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan […]

expand_less