Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Cina Gelar Shalat Istisqa, Mohon Turunnya Hujan dan Tobat Ekologis
- account_circle Andre AS
- calendar_month Senin, 14 Sep 2026
- visibility 122
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DEPOK — Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pondok Cina sukses menggelar ibadah Shalat Istisqa (shalat meminta hujan) pada Senin, 14 September 2026. Pelaksanaan ibadah yang bertempat di Halaman Masjid Al Khohirur, Jalan Al Furqan, Pondok Cina, Beji, Kota Depok, ini berlangsung khidmat mulai pukul 06.30 hingga 08.00 WIB.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk tindak lanjut atas instruksi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui PDM Kota Depok, serta memenuhi imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok menyusul musim kemarau panjang yang tengah melanda.
Pelaksanaan Shalat Istisqa ini dihadiri oleh sekitar 400 jamaah yang terdiri dari guru-guru TK dan SD Muhammadiyah, jajaran ibu-ibu ‘Aisyiyah, para murid sekolah, warga persyarikatan tingkat RT dan RW, serta turut dihadiri langsung oleh Lurah Pondok Cina.
Susunan acara dipandu oleh Rizki Fauzan selaku Sekretaris PRM Pondok Cina. Bertindak sebagai imam sekaligus khotib dalam ibadah tersebut adalah Ustadz Mahfan, sementara sambutan atas nama penasehat ranting sekaligus Bendahara PDM Depok disampaikan oleh H. Idrus Yahya.
Dalam sambutannya, H. Idrus Yahya memaparkan esensi dan hikmah mendalam dari pelaksanaan Shalat Istisqa yang dibagi ke dalam tiga dimensi utama.
Pertama, dimensi hubungan dengan Allah (hablum minallah). Shalat Istisqa menjadi sarana bagi manusia untuk mengakui kelemahan diri serta menyadari bahwa seluruh sumber daya kehidupan seperti hujan, rezeki, dan hasil bumi sepenuhnya berada di tangan Sang Pencipta. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT dalam QS. Asy-Syura ayat 28: “Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa…” Selain itu, ibadah ini juga melatih kesabaran, tawakkal, serta menjadi sarana penghapus dosa melalui rangkaian istighfar berjamaah.
Kedua, dimensi hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Pelaksanaan shalat secara berjamaah di ruang terbuka tanpa memandang status sosial—baik kaya, miskin, pejabat, maupun rakyat jelata yang hadir mengenakan pakaian sederhana—mampu menumbuhkan solidaritas dan mempererat kebersamaan. Momentum ini juga menghidupkan kepedulian sosial untuk membantu warga yang terdampak kekeringan serta krisis air bersih.
Ketiga, dimensi pembinaan diri (personal growth). Prosesi ibadah ini berfungsi untuk melembutkan hati, melatih adab berdoa dengan penuh tawadhu, serta memperkuat keimanan. H. Idrus juga menekankan pentingnya tobat ekologis melalui ibadah ini. Kekeringan yang terjadi sering kali menjadi pengingat bagi manusia untuk mengevaluasi diri agar senantiasa menjaga kelestarian alam, tidak merusak hutan, dan menghindari pencemaran lingkungan.”Shalat Istisqa bukan sekadar ritual meminta hujan saja, tetapi merupakan sekolah iman untuk mengakui Allah Maha Pemberi, memperbaiki diri, mempererat ukhuwah, dan menjaga akidah,” ujar H. Idrus Yahya dalam pesan utamanya. Ia mengibaratkan ketahanan iman seperti pohon yang memiliki akar kuat sehingga mampu bertahan di tengah musim kemarau panjang dan menenangkan jiwa.
- Penulis: Andre AS
- Editor: Aas

Saat ini belum ada komentar