MUI Depok: Al-Qur’an Harus Jadi Kompas Keluarga Hadapi Tantangan Era Digital DEPOK – Arus digitalisasi dan perubahan
- account_circle Rohmat Rospari
- calendar_month Senin, 27 Jul 2026
- visibility 38
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DEPOK – Arus digitalisasi dan perubahan sosial yang pesat membawa tantangan baru bagi ketahanan keluarga. Menjawab dinamika tersebut, Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI Kota Depok, Siti Barkah Hasanah—yang akrab disapa Cing Ikah—mengimbau masyarakat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam membina rumah tangga.
Pesan tersebut disampaikan Cing Ikah saat mengisi kajian bertajuk “Menguatkan Ketahanan Keluarga Melalui Nilai-Nilai Al-Qur’an” di Gedung MUI Kota Depok, Sabtu (25/7/2026).
Pentingnya Benteng Agama di Era Digital
Dalam paparannya, Cing Ikah menyoroti bahwa kemajuan teknologi tidak hanya membawa dampak positif, tetapi juga mendatangkan risiko serius jika tidak disikapi secara bijak. Beberapa ancaman yang mengintai keluarga saat ini antara lain kecanduan gawai, paparan judi online, pornografi, perundungan siber (cyberbullying), hingga melonggarnya komunikasi dan kedekatan emosional antaranggota keluarga.
Oleh karena itu, orang tua dituntut hadir secara aktif untuk mendampingi anak-anak mereka.
“Al-Qur’an harus menjadi kompas keluarga. Ketika nilai-nilai Al-Qur’an hidup di dalam rumah, insya Allah keluarga akan memiliki benteng yang kuat menghadapi berbagai tantangan zaman,” tegas Cing Ikah.
Sebagai sekolah pertama (madrasah ula) bagi anak, keluarga wajib menanamkan nilai tauhid, akhlak, kejujuran, amanah, kesabaran, tanggung jawab, serta tradisi musyawarah melalui keteladanan orang tua sejak dini.
Untuk mempraktikkannya, ia mendorong keluarga menerapkan kebiasaan Qur’ani sederhana, seperti:
* Shalat berjamaah dan tilawah Al-Qur’an di rumah.
* Makan bersama tanpa gawai (gadget-free time).
* Menjalin dialog terbuka antara orang tua dan anak.
* Menggunakan media digital secara bijak dan sehat.
Silaturahmi Sebagai Modal Sosial Warga Depok
Di sisi lain, Cing Ikah mengapresiasi tingginya budaya silaturahmi yang masih terjaga erat di Kota Depok. Aktivitas sosial dan keagamaan—seperti pengajian di majelis taklim, arisan warga, hingga program Keberagaman Wisata dari Pemkot Depok—dinilai menjadi wadah efektif dalam memperkuat interaksi positif dan mencegah potensi konflik sosial.
“Silaturahmi adalah kekuatan masyarakat kita. Ketika komunikasi antarkeluarga dan antarwarga terjalin dengan baik, maka persoalan-persoalan sosial akan lebih mudah dicegah dan diselesaikan bersama,” jelasnya.
Kolaborasi Tekan Angka KDRT dan Konflik Rumah Tangga
Meskipun modal sosial Kota Depok terbilang kuat, Cing Ikah tak menampik bahwa persoalan seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan konflik keluarga masih ditemukan. Menurutnya, penanganan masalah ini tidak cukup hanya melalui jalur hukum, tetapi butuh pendekatan edukatif dan pendampingan berkelanjutan.
Ia menyambut baik hadirnya fasilitas pendampingan milik Pemerintah Kota Depok, seperti Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Harmoni dan Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Harmoni.
“Semua pihak memiliki tanggung jawab yang sama. Ulama memberikan penguatan nilai agama, pemerintah menghadirkan layanan pendampingan, sementara masyarakat membangun budaya saling peduli. Ketika ketiganya berjalan bersama, insya Allah keluarga-keluarga di Kota Depok akan semakin kuat,” pungkas Cing Ikah.
Melalui sinergi ini, ia berharap nilai-nilai Al-Qur’an dapat terimplementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari demi mencetak generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan tangguh di era digital.
- Penulis: Rohmat Rospari
- Editor: Aas

Saat ini belum ada komentar