Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Terkini » Menjemput “Qaulan Tsaqilan”: Rahasia Kata yang Mengguncang Dunia

Menjemput “Qaulan Tsaqilan”: Rahasia Kata yang Mengguncang Dunia

  • account_circle admin
  • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
  • visibility 134
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

MUI Digital — Pernahkah kita mendengar atau membaca sebuah kalimat yang seketika membuat bulu kuduk merinding, mengubah cara memandang hidup dalam sekejap, atau bahkan mampu menggerakkan jutaan orang untuk melakukan perubahan besar?

Di era digital hari ini, kita kebanjiran kata-kata. Setiap hari, miliaran twit, takarir (caption), qoute dan video pendek diproduksi. Namun, jujur ​​saja: berapa banyak dari kata-kata itu yang benar-benar bernyawa? Sebagian besar menguap begitu saja, hilang tersapu algoritma. Riuh tapi hampa dan bising tapi tak membekas.

Ada rahasia besar yang sengaja Allah bocorkan dalam Alquran tentang bagaimana menyusun kata-kata yang tidak hanya didengar telinga, tapi menghunjam ke lubuk hati dan meruntuhkan keangkuhan zaman. Rahasia itu bernama “qaulan tsaqilan” (perkataan yang berat).

Bukan Sekadar Retorika, Ini Soal “Bobot”

Ketika Allah SWT berfirman dalam surat Al-Muzzammil, ayat 5, yang artinya: “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat (qaulan tsaqilan).” (QS. Al-Muzzammil: 5), maka sesungguhnya ayat ini tidak sekadar sedang membicarakan teknik pidato, retorika, intonasi atau keindahan rima bahasa.

Hakikatnya, qaulan tsaqilan adalah kata-kata yang memiliki pengaruh besar. Ia bagaikan peluru ideologi yang presisi. Di masa awal Islam, kata-kata yang dibawa Rasulullah SAW begitu berat karena ia menantang “status quo” kezaliman jahiliyah, mengungkap berhala pemikiran, dan menawarkan sistem penjelas kehidupan yang revolusioner.

Namun, perhatikan urutannya. Allah tidak langsung memberikan qaulan tsaqilan begitu saja. Perintah itu turun persis setelah proses untuk membelah malam melalui qiyamul lail dan membedah wahyu melalui tartilul qur’an .

Artinya, wibawa sebuah kata di ruang publik (siang hari) ditentukan oleh seberapa intim interaksi kita dengan Allah, Sang Pencipta, di ruang privat (malam hari) melalui shalat malam dan tilawah Alquran dengan tartil.

 

Memoles Permata di Keheningan Malam

Mengapa qiyamul lail dan tartilul qur’an menjadi syarat mutlak lahirnya kata-kata yang berbobot?

Bayangkan sebuah permata mentah yang baru diambil dari bumi. Ia buram karena tertutup lumpur dan kotoran. Begitulah jiwa dan pikiran kita yang setiap hari terpapar polusi informasi, ambisi duniawi, ego pribadi, dan pencitraan.

Ketika seorang pejuang dakwah, seorang penulis, atau seorang pemimpin bersujud di segmen malam, ia sedang “menggosok” permatanya. Di bawah siraman ketenangan malam, kotoran ego itu luruh. Motifnya dimurnikan hanya untuk Allah.

Saat ia membaca Alquran dengan tartil, ia sedang menyerap kebenaran berlapis-lapis yang disediakan oleh Alquran. Sebab ia adalah Al-Furqan, yakni pisau analisis kritis untuk membedah realitas masyarakat. Ia adalah Al-Kitab, yakni struktur ilmu pengetahuan yang kaku dan terorganisasi. Ia juga adalah An-Nur, yaitu cahaya yang memberikan kejelasan arah dan strategi.

Ketika jiwa telah bersih dan pikiran telah terisi oleh metodologi yang Allah siapkan, maka apa pun yang keluar dari lisannya tidak akan lagi menjadi omong kosong. Kata-katanya menjelma menjadi doa yang makbul, opininya menjadi referensi yang mencerahkan, dan argumentasinya menjadi pelita di tengah kegelapan post-truth.

Panggilan untuk Mengambil Bagian

Sahabat, dunia saat ini sedang mengalami krisis wacana akut yang bermakna. Umat ​​Islam mendominasi secara kuantitas, namun kita sering kali gagap dan defensif saat harus menerapkan nilai-nilai Islam ke dalam panggung sains, ekonomi, sosiologi, dan teknologi modern. Kita kekurangan manusia dengan kapasitas qaulan tsaqilan.

Tantangan dakwah modern di ruang siber dan ruang akademik membutuhkan qaulan tsaqilan. Jangan biarkan jemari kita hanya mengetik narasi yang dangkal. Jangan biarkan lisan kita hanya memproduksi kritik tanpa solusi.

Mari ubah strategi. Jika selama ini kita lelah mengejar metrik algoritma dan popularitas semu, namun kata-kata tetap tak berdaya, saatnya kita kembali pada strategi yang terkandung dalam surat Al-Muzzammil.

Bangun oase malam dengan menyisihkan waktu di saat manusia lain terlelap. Sedot kekuatan Allah dari Yang Maha Kuasa. Di situlah ketahanan mental dan ketabahan hati di-upgrade dan di-update.

Pertajam intelektualitas lewat Alquran. Jangan hanya membaca teksnya, melainkan serap juga metodologinya. Jadikan Alquran sebagai kompas utama untuk merumuskan “sistem penjelas” atas segala permasalahan karut-marut modern.

Ketika kita konsisten menegakkan rumusan Al-Muzzammil ini, kita sebenarnya sedang menduplikasi strategi perang pemikiran yang digunakan oleh manusia teragung di muka bumi ini, yaitu Rasulullah SAW.

Tengoklah kembali bagaimana Rasulullah SAW menggunakan qaulan tsaqilan sebagai senjata utama di fase awal dakwah Makkah.

Pada saat itu, beliau tidak memiliki tentara, tidak memegang tampuk kekuasaan, dan tidak didukung oleh logistik yang melimpah. Lawan yang menghadap adalah para dedengkot Quraisy yang menguasai panggung retorika, politik dan ekonomi Arab. Namun, mengapa kata-kata Rasulullah yang keluar dari bibir beliau begitu mematikan bagi kesombongan jahiliyah?

Jawabannya adalah karena setiap kalimat yang diucapkannya telah diisi “daya ledak spiritual” lewat tangisan di lorong malam.

Ketika Rasulullah berdiri di atas bukit Shafa dan memahami kebenaran, kata-katanya tidak mengandung keraguan sedikit pun.

Qaulan tsaqilan itu bekerja seperti sinar laser, menembus tirani, memerdekakan mental para budak seperti Bilal, dan meruntuhkan dogma-dogma kuno yang telah berurat akar selama berabad-abad.

Bahkan musuh bebuyutan seperti Umar bin Khattab pun tersungkur hatinya, bukan karena tebasan pedang, melainkan karena getaran magis dari untaian ayat Alquran yang ia dengar.

Demikianlah kedahsyatan “senjata” qaulan tsaqilan. Ia tidak menghancurkan fisik manusia, melainkan menaklukkan jiwa dan merombak total isi kepala mereka.

Rasulullah SAW telah membuktikan bahwa kata-kata yang lahir dari rahim qiyamul lail dan tartilul qur’an mampu merevolusi sebuah bangsa yang jahiliyah menjadi guru peradaban dunia hanya dalam waktu dua dekade.

Dunia hari ini sudah jenuh dengan gangguan tanpa makna. Mereka sedang menunggu narasi baru, gagasan segar, dan pemikiran bernyawa dari para dai yang memiliki qaulan tsaqilan. Tantangan zaman kita mungkin berbeda media dengan zaman Makkah, namun rumusan penaklukannya tetap sama.

Mari jemput qaulan tsaqilan di atas sajadah malam ini. Isilah “senjata” kata-kata dengan peluru spiritual dan intelektual yang presisi. Lalu, izinkan Allah yang mengambil alih untuk menggetarkan hati manusia dan memenangkan pertarungan wacana melalui jemari dan kata-kata besok pagi!

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Halal Bazar MUI Menjadi Pondasi Depok Halal Festival 2027 photo_camera 1

    Halal Bazar MUI Menjadi Pondasi Depok Halal Festival 2027

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle JiAcep
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Berangkat dari Kesuksesan Bazar MUI, Siap Perkuat Ekosistem Ekonomi Umat di Depok DEPOK — Suksesnya penyelenggaraan Halal Bazar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok menjadi pemicu lahirnya gagasan besar bertajuk Depok Halal Festival 2027. Ajang ini diproyeksikan menjadi gerakan strategis dalam memperkuat struktur ekonomi umat melalui kolaborasi, promosi, dan pemantapan daya saing pelaku usaha produk […]

  • HARI KE-3 TAKHASSUS TAFSIR PKU MUI KOTA DEPOK MAKIN BERGENGSI, HADIRKAN TGB ZAINUL MAJDI HINGGA BAHAS TAFSIR ILMIAH & PENTASHIHAN MUSHAF

    HARI KE-3 TAKHASSUS TAFSIR PKU MUI KOTA DEPOK MAKIN BERGENGSI, HADIRKAN TGB ZAINUL MAJDI HINGGA BAHAS TAFSIR ILMIAH & PENTASHIHAN MUSHAF

    • calendar_month 10 jam yang lalu
    • account_circle Monang Ganteng
    • visibility 40
    • 0Komentar

    DEPOK, Takhassus Tafsir dan Ilmu Tafsir Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI Kota Depok* yang digelar pada *Rabu, 16 September 2026* berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Memasuki hari ketiga, program ini semakin bergengsi dengan hadirnya narasumber tokoh nasional. Kegiatan yang dipusatkan di Gedung Dakwah MUI Kota Depok ini dimoderatori oleh *Dr. KH. Sya’roni Rofi’i*, Komisi PKU […]

  • Ulama di Era Digital: Berdakwah Menembus Batas Ruang dan Waktu photo_camera 1

    Ulama di Era Digital: Berdakwah Menembus Batas Ruang dan Waktu

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle H. Ali Wartadinata
    • visibility 240
    • 0Komentar

    Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara masyarakat memperoleh informasi keagamaan. Jika dahulu majelis taklim, masjid, dan mimbar menjadi ruang utama penyampaian dakwah, kini media sosial, website, podcast, hingga kanal video telah menjadi “mimbar baru” yang menjangkau jutaan orang tanpa dibatasi ruang dan waktu. Fenomena ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan […]

  • KH. Ahmad Fakhruddin Murodih Syiar Islam Melalui Safari Subuh Keliling di Depok

    KH. Ahmad Fakhruddin Murodih Syiar Islam Melalui Safari Subuh Keliling di Depok

    • calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
    • account_circle Aas
    • visibility 71
    • 0Komentar

    DEPOK — Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, KH. Ahmad Fakhruddin Murodih, terus menggalakkan syiar Islam melalui program dakwah berkeliling pada waktu subuh. Pada Sabtu, 8 Agustus 2026, beliau hadir mengisi kegiatan Subuh Keliling (Subling) yang diselenggarakan di Masjid Jami Arrahman, Tanah Baru, Depok. ​Dalam tausiyahnya, KH. Ahmad Fakhruddin menyampaikan kajian mendalam […]

  • Ketua Bidang PSBI MUI Kota Depok Jalani Tugas Pengabdian Dosen Internasional di Yala Rajabhat University Thailand

    Ketua Bidang PSBI MUI Kota Depok Jalani Tugas Pengabdian Dosen Internasional di Yala Rajabhat University Thailand

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Andre AS.
    • visibility 96
    • 0Komentar

    DEPOK— Ketua Bidang Pengembangan Seni Budaya Islam (PSBI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, Dr. Ade Yusuf Mujaddid, M.Ag., pada hari ini, Sabtu (22/8/2026), mendapatkan amanah dan tugas mulia untuk melaksanakan program Pengabdian Dosen Internasional di Thailand. Kegiatan bertaraf internasional tersebut dijadwalkan berlangsung pada 24–25 Agustus 2026** berlokasi di kampus Yala Rajabhat University, Thailand. Program […]

  • FKUB dan MUI Kota Depok Luruskan Isu Toleransi: Kendala Izin Rumah Ibadah Mayoritas Dipicu Masalah Administrasi

    FKUB dan MUI Kota Depok Luruskan Isu Toleransi: Kendala Izin Rumah Ibadah Mayoritas Dipicu Masalah Administrasi

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle Aas
    • visibility 136
    • 0Komentar

      DEPOK — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Depok bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok memberikan klarifikasi terkait dinamika kerukunan umat beragama dan perizinan rumah ibadah di wilayah Depok. Dalam program podcast Bincang Ulama yang ditayangkan di kanal TV MUI Kota Depok, Ketua FKUB Kota Depok, Kiai Ghoni, menegaskan bahwa akar masalah utama […]

expand_less