Transformasi Dakwah di Era Digital: Dari Media Sosial Hingga AI, Saatnya Ulama Mewarnai
- account_circle H. Andre Anjarkasih S.
- calendar_month Senin, 27 Jul 2026
- visibility 35
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oplus_131072
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: H. Andre Anjarkasih S. (Ketua Komisi Infokomdigi MUI Kota Depok)
Evolusi Teknologi dan Lahirnya Ruang Baru
Jika kita menengok sejarah perkembangan teknologi komunikasi, perjalanannya berlangsung sangat pesat. Kita tentu ingat era pager, telepon genggam biasa, kejayaan BlackBerry, hingga akhirnya era smartphone seperti saat ini. Perkembangan besar mulai terasa signifikan ketika aplikasi pesan instan seperti WhatsApp hadir. Fitur telepon gratis, pesan yang fleksibel, dan kemudahan menyebarkan berbagai bentuk informasi dalam satu genggaman menjadi penanda dimulainya era baru interaksi digital.
Media sosial (medsos) hadir sebagai dampak dari lompatan teknologi ini. Namun pada hakikatnya, medsos hanyalah sebuah sarana. Ibarat sebidang sawah, hasil yang dipanen tergantung dari jenis tanaman apa yang kita tanam. Medsos juga bak pisau bermata dua—pemanfaatannya sangat tergantung pada pemegangnya: apakah digunakan sebagai alat kebaikan, atau justru untuk melukai dan merugikan orang lain.
Pentingnya Literasi Digital dan Kewaspadaan
Sebagai sebuah sarana, isi dari media sosial sepenuhnya ditentukan oleh siapa yang memproduksinya. Oleh karena itu, media sosial adalah ruang yang sangat perlu kita waspadai.
Di era digital saat ini, mau tidak mau, suka tidak suka, semua pihak dipaksa untuk mengenal dan memahami teknologi. Tantangan ini secara khusus ditujukan kepada:
– Para Ulama, Dai atau Pendakwah
– Ustaz dan Ustazah
– Pengurus DKM ( Dewan Kemakmuran Masjid).
– Tokoh-tokoh Masyarakat
Penguasaan literasi medsos menjadi krusial agar ruang digital tidak dominan diisi oleh hal-hal negatif. Para tokoh agama harus mau terjun dan hadir untuk mewarnai ruang publik ini. Jangan sampai generasi muda kita justru dibentuk dan diwarnai oleh konten-konten yang merusak moral.
Tantangan Baru: Dari AI Hingga Hologram
Perkembangan teknologi tidak berhenti di media sosial. Saat ini, kita telah memasuki era Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) yang menawarkan berbagai kemudahan. Sayangnya, ketidakbijakan dalam menggunakan AI sering kali dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk memproduksi fitnah, hoaks, dan rekayasa informasi. Ini tentu kondisi yang memprihatinkan.
Bahkan di masa depan, kita akan dihadapkan pada era teknologi hologram, di mana visualisasi seseorang—seperti pendakwah ternama—dapat dihadirkan seolah-olah nyata di depan mata kita, padahal itu hanya rekayasa digital.
Kesimpulan: Menembus Batas Ruang dan Waktu demi Keagungan Dakwah
Melihat begitu besarnya pengaruh dan potensi bahaya dari perkembangan teknologi, sudah saatnya para ulama dan dai memanfaatkan smartphone serta media sosial secara maksimal sebagai media dakwah.
Dakwah digital memiliki keunggulan yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Pesan-pesan kebaikan kini dapat menembus seluruh pelosok dunia tanpa batas. Mari kita satukan langkah untuk mewarnai ruang digital dengan narasi yang menyejukkan, mengedukasi, dan membawa kemaslahatan bagi umat
- Penulis: H. Andre Anjarkasih S.
- Editor: Aas

Saat ini belum ada komentar