MUI Kota Depok Gelar Ta’ziah dan Doa Bersama 40 Hari Almarhum Bapak Achmad Husaini bin M. Idris
- account_circle Andre AS.
- calendar_month Sabtu, 10 Okt 2026
- visibility 79
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oplus_131072
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DEPOK — Sebagai wujud nyata ukhuwah islamiyah dan solidaritas keummatan, jajaran pengurus Keluarga Besar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok mengadakan kunjungan ta’ziah dan doa bersama dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya almarhum Bapak Achmad Husaini bin M. Idris
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini diselenggarakan di kediaman shohibul musibah, Bapak H. Ahmad Fauzi Husaini (Ketua Komisi PSBI MUI Kota Depok).
Acara ini dihadiri oleh para ulama, tokoh masyarakat, serta jajaran anggota MUI Kota Depok guna menyampaikan belasungkawa mendalam sekaligus menguatkan keluarga yang ditinggalkan agar tetap tabah dalam menghadapi ketetapan Allah SWT.
Rangkaian Ibadah dan Doa Bersama
Majelis ta’ziah dipandu oleh H. Slamet Riyadi (Pak Dewan) selaku pembawa acara. Rangkaian kegiatan diisi dengan berbagai amalan ibadah untuk mengirimkan doa kepada almarhum, yang meliputi:
Tahlil dan Maulid: Pembacaan kalimat thayyibah tahlil dipimpin oleh Ust. Sholihin, serta lantunan shalawat Maulid Nabi Muhammad SAW bersama-sama yang dipandu oleh Ust. H. Mahmud Saan.
Tilawah Al-Qur’an: Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an yang dilantunkan secara merdu oleh Ust. Iip.
Mauizhotul Hasanah: Penyampaian nasehat keagamaan dan penyejuk hati oleh Ust. Marjaya dan Ust. H. Jajang Suryana.
Pesan Utama Mauizhotul Hasanah
Dalam tausiyahnya, Ust. Marjaya menyampaikan tiga poin penting mengenai hikmah majelis ta’ziah:
1. Kondisi di Alam Barzah: Mengutip hadis Rasulullah SAW (Al-mayyitu fī qabrihi kal-ghariqil-mughawwats), beliau mengingatkan bahwa mayit di alam barzah bagaikan orang tenggelam yang sangat mengharapkan doa dari orang-orang yang ditinggalkannya.
Doa, pembacaan Al-Qur’an, dan maulid yang dihadiahkan menjadi bentuk kegembiraan bagi almarhum di alam barzah.
2. Peringatan bagi yang Hidup: Kehadiran majelis ini menjadi pengingat (Kafa bil-mawti wā’izha) bahwa setiap yang bernyawa pasti akan menghadap Allah SWT. Kematian adalah rahasia Allah (sirrun min asrarillah) yang datang secara tiba-tiba (baghtatan), sehingga menuntut kewaspadaan dan persiapan iman.
3. Menggembirakan Keluarga: Kunjungan dan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan merupakan bentuk idkhalus-surur yang bernilai sedekah.
Sementara itu, Ust. H. Jajang Suryana menambahkan pengingat dalam bahasa Sunda:
Anak Adam, anjeun di dunya ngumbara umur anjeun di dunya teh moal lila (Wahai anak Adam/manusia, engkau di dunia hanyalah seorang pengembara/perantau, umurmu di dunia ini tidak akan lama)
Pesan tersebut sekaligus mengajak setiap insan untuk senantiasa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya guna beramal saleh (badiru bil-a’mali sholihah), menjaga keikhlasan amal murni karena Allah (lillahi ta’ala), serta berhati-hati agar pahala tidak gugur akibat al-mannu (mengungkit kebaikan) maupun Al-Adza (menyakiti perasaan).
Kenangan dan Pesan Almarhum
Dalam sambutannya mewakili pihak keluarga, H. Ahmad Fauzi Husaini mengenang berbagai kebaikan almarhum semasa hidup, mulai dari keaktifannya dalam kegiatan sosial kemasyarakatan hingga keterlibatannya di jamaah masjid. Almarhum juga meninggalkan pesan berharga kepada anak-anaknya agar senantiasa istiqamah mengamalkan kalimat bismillah sebelum mengerjakan segala sesuatu.
Ia turut menyampaikan terima kasih yang mendalam atas kehadiran para jamaah untuk mendoakan almarhum, sekaligus memohonkan maaf apabila semasa hidup almarhum terdapat kekhilafan dalam sapa dan tutur kata.
Acara ditutup dengan pembacaan Suratul Fatihah yang dipimpin oleh Ust. H. Jajang Suryana, diiringi doa khusus agar almarhum Bapak Ahmad Husaini mendapatkan tempat mulia di sisi Allah SWT, diampuni segala kekhilafannya, serta kuburannya dijadikan sebagai raudhah min riyadil-jannah (taman surga).
- Penulis: Andre AS.
- Editor: Aas

Saat ini belum ada komentar