Pengajian Bulanan Sabtu Pon Binaul Ummah Depok: Teladani Kepemimpinan Rasulullah dan Pentingnya Niat Membangun Umat
- account_circle Andre AS.
- calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
- visibility 271
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DEPOK — Pondok Pesantren Binaul Ummah yang terletak di Gg. Mushola, Kp. Rawa Denok, Rangkapan Jaya Baru, Pancoran Mas, Kota Depok, kembali sukses menggelar acara akbar Pengajian & Dzikir Bulanan Sabtu Pon pada Sabtu pagi, 3 Oktober 2026 M / 21 Rabiul Akhir 1448 H.
Acara yang dihadiri oleh ratusan jamaah, santri, serta para alim ulama ini berlangsung khidmat. Rangkaian kegiatan diawali dengan Khotmil Qur’an, pembacaan Rotib Al-Attas, Maulid Diba’i, hingga Dalailul Khairat, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi zikir bersama dan penyampaian tausiah inspiratif dari para ulama dan tokoh nasional.
Dzikir dan Koneksi Hati kepada Allah SWT. Dalam arahannya, Pengasuh Pondok Pesantren Binaul Ummah, Kyai Muslim Farid, mengajak seluruh jamaah untuk meluruskan niat dan menghadirkan kesadaran penuh kepada Allah SWT di dalam majelis zikir. Beliau menekankan bahwa kumandang zikir yang terus menggema diharapkan mampu mendatangkan rahmat serta keberkahan tidak
hanya bagi diri sendiri dan keluarga, tetapi juga membawa ketenteraman bagi bangsa Indonesia.
“Tujuannya adalah mudah-mudahan hati kita semakin terpaut dengan Allah dalam keadaan apapun, sehingga terjaga lisan dan perbuatan kita karena senantiasa terkoneksi dengan Allah dan Baginda Rasulullah SAW,” ujar Kyai Muslim Farid di hadapan para jamaah.
Meneladani Etos Bisnis dan Kepemimpinan Rasulullah SAW.
Acara inti menghadirkan penceramah terkemuka, Wakil Ketua Umum MUI Pusat sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren, Dr. KH. Marsudi Syuhud, MM. Dalam ceramahnya yang mendalam dan interaktif, Kyai Marsudi membedah strategi kesuksesan hidup, berbisnis, dan berorganisasi dengan meneladani perjalanan Nabi Muhammad SAW.
Beliau memaparkan bahwa Rasulullah SAW telah menunjukkan kemandirian dan profesionalisme dalam berdagang sejak usia 12 hingga 17 tahun menggunakan sistem ekonomi yang bersih dan produktif, seperti konsep mudharabah.
Kyai Marsudi juga memberikan formula penting bagi umat Islam yang ingin meraih kesuksesan dunia dan akhirat:
* Orientasi Kebaikan Luas: Mengubah niat dalam mendirikan usaha, membangun tempat, maupun bekerja bukan sekadar untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi orang banyak (khoirunnas anfauhum linnas).
* Niat Produktif yang Mulia: Menjadikan orientasi kekayaan atau kesuksesan sebagai sarana untuk menjadi pembayar zakat, infak, sedekah, dan pajak terbesar demi kemaslahatan umat.
* Keseimbangan Usaha dan Spiritual: Menyeimbangkan “gas kencang” berupa kerja keras dan produktivitas umur dengan “rem yang pakem” berupa zikir, mengingat kematian, serta membersihkan hati dari kecintaan dunia yang berlebihan (hubbud dunya).
Selain aspek ekonomi dan spiritual, Kiai Marsudi juga mengulas sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah dan pembentukan Piagam Madinah (Shahifah Madinah). Beliau menjelaskan bagaimana Rasulullah berhasil menyatukan berbagai elemen masyarakat dengan latar belakang suku dan agama yang berbeda menjadi sebuah bangsa yang utuh (ummatun wahidah).
Semangat persatuan tersebut, menurut beliau, menjadi inspirasi para para ulama dan pendiri bangsa dalam merumuskan dasar negara Pancasila. Nilai-nilai luhur Pancasila dinilai sejalan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam serta Al-Qur’an, sehingga menjadi fondasi yang kuat bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Penutup dan Doa Bersama
Pengajian akbar yang turut dihadiri oleh Purn. Irjen Pol. Drs. Baharudin Ja’far beserta jajaran tokoh agama dan masyarakat ini ditutup dengan doa bersama. Para jamaah memanjatkan doa keselamatan bagi bangsa serta mendoakan kebaikan bagi para guru dan mursyid yang telah membimbing umat menuju jalan yang diridai Allah SWT.
- Penulis: Andre AS.

Saat ini belum ada komentar